ISIS Bukan Khilafah dan Khilafah tidak seperti ISIS

Baca pelan pelan analisa berikut ini

  1. Bismillaahirrahmaanirrahiim
  2. Tulisan ini sangat berbeda dari tulisan sebelumnya dimana sebelumnya ada analisa ringan dan saya juga memberikan kesimpulan | Pada tulisan ini, kita akan coba menganalisa bersama | Saya ajak Anda untuk menganalisa | Saya tidak akan memberikan jawabannya, Anda yang akan menjawab sendiri
  3. Ingat, tulisan ini hanya terkait label Khilafah pada ISIS bukan pada mujahidin yang ada dilapangan
  4. Mohon hati-hati membacanya, kita akan menganalisa per kasus hingga akan ada kesimpulan seperti yang ada di tulisan pada gambar dari postingan ini | Ya, kesimpulannya berupa pertanyaan dimana Anda sendiri yang akan menjawabnya
  5. Kita mulai | Fokus
  6. Bagian pertama | Mengurai kembali awal dari Revolusi Suriah secara singkat
  7. Revolusi Suriah adalah bola panas yang lahir setelah peristiwa Arab Spring yang dimulai dari Tunisia dimana ada penjual sayur yang membakar dirinya untuk memprotes negaranya | Arab Spring terus bergulir hingga sampai ke Suriah
  8. Awalnya rakyat Suriah berdemo secara damai menolak kepemimpinan Bashar Assad | Demo terjadi secara massive | Kemudian Bashar tidak bisa menghandle aksi demo yang terjadi dimana-mana
  9. Demo secara damai terus terjadi | Assad tidak bisa menghandle | Assad akhirnya menggunakan senjata untuk mengusir para demonstran | Disinilah semua akan bermulai…
  10. Aksi damai dibalas dengan senjata oleh Assad | Rakyat Suriah termasuk Mujahidin akhirnya mulai menggunakan senjata juga
  11. Awalnya Revolusi Suriah dan teriakan rakyat dan Mujahidin hanya ingin melengserkan Bashar Assad seperti peristiwa Arab Spring lainnya | Bendera Nasionalisme Suriah berkibar di saat aksi-aksi Demo termasuk saat perlawanan dengan senjata antara Mujahidin dan Tentara Bashar
  12. Hisyam Baba, Ketua Maktab I’lami Hizbut Tahrir Suriah, mengunjungi semua aliansi Mujahidin di Suriah agar tidak hanya sebatas melengserkan Bashar Assad tetapi juga mengganti sistemnya dengan Khilafah
  13. Dakwah dengan aliansi Mujahidin terus terjadi secara marathon | Di beberapa tempat, di pelosok, semua termasuk terhadap rakyat Suriah
  14. Bukan perkara mudah untuk menyatukan seluruh aliansi Mujahidin dengan satu pemahaman | Namun, singkatnya mereka semua menerima ide Hizbut Tahrir untuk tidak hanya melengserkan Bashar tetapi juga mengganti sistem karena kalau hanya sebatas kepala negaranya, yang terjadi seperti di negeri-negeri lainnya yang mengalami Arab Spring
  15. Setelah dakwah yang massive ke semua aliansi Mujahidin | Akhirnya bendera Nasionalisme Suriah dibuang dan berganti bendera tauhid, Liwa dan Raya | Rakyat Suriah mendukung dan mulai meneriakkan ‘Al-ummah Turid Khilafah Islamiyah’ (Umat Islam menginginkan tegaknya Khilafah Islamiyah)
  16. Seorang pemuda ditanya: | “Kenapa dulu membawa bendera Suriah?” | Ia menjawab : “Agar diliput media sehingga menjadi topic diberbagai negeri lainnya” | Namun setelah mengetahuinya bahwa mengganti rezim saja tidak cukup, dan isu tentang Khilafah semakin meluas, ia akhirnya membawa bendera Liwa dan Rayah
  17. Teriakkan ‘Al-ummah Turid Khilafah Islamiyah’ dimana-mana dan sudah menjadi opini Umum | Pada saat itu, Hizbut Tahrir Suriah sudah sangat dekat dengan Nashrulloh | Hisyam Baba yang mengatakan sendiri
  18. Isu ini sampai ke luar negeri dan tentu sampai ke Amerika bahwa yang diteriakkan di Suriah bukan hanya berganti rezim tapi berganti Sistem Khilafah
  19. Kesimpulan bagian pertama | Hizbut Tahrir dan Aliansi Mujahidin bersama ummat Islam di Suriah menginginkan tegaknya Khilafah | Isu Khilafah sampai mendunia termasuk ke Amerika | ISIS belum masuk dan belum terlihat secara terbuka disini (Suriah) | Pahami dengan baik pada kesimpulan bagian pertama ini
  20. Kita akan masuk bagian kedua tentang ISIS | Fokus
  21. Berbicara awal mula ISIS tidak bisa lepas dari Al-Qaeda | Berbicara Al-Qaeda tidak bisa lepas dari Afghanistan dan Uni Soviet | Berbicara Uni Soviet tidak bisa lepas dari pertikaian antara Amerika dan Uni Soviet (sejak Perang Dingin)
  22. Bagaimana? Mau dibahas bagian mana terlebih dahulu?
  23. Kita balik kalimat dari point 21 menjadi begini
  24. Sejak Perang Dingin, Amerika dan Uni Soviet bersitegang dalam berbagai hal termasuk teknologi, ekonomi, politik, kekuasaan, kekuatan dan lain-lain | Peristiwanya sangat rumit, saling mencuri blue-print atau master plan sebuah rancangan pesawat, senjata, dll
  25. Ada banyak cara yang dilakukan Amerika untuk menghancurkan Uni Soviet | Salah satunya adalah dengan membenturkan Uni-Soviet dengan Negara Afghanistan (Mujahidinnya)
  26. Al-Qaeda ‘dimanfaatkan’ oleh Amerika untuk berperang melawan dan mengusir Uni Soviet | Dari sisi Al-Qaeda, memang mereka sendiri bermusuhan dengan Uni Soviet dan ingin mengusirnya | Kesempatan bagi Amerika untuk menyuplai senjatan dll lewat agen-agennya termasuk CIA dan termasuk juga undangan pemimpin clan2 Mujahidin ke White House
  27. Al Qaeda pada awalnya merupakan kelompok yang dibentuk dan didanai oleh AS untuk menghancurkan kekuatan Soviet di semenanjung Arab pada waktu itu, termasuk di Afghanistan dan Pakistan
  28. Setelah Uni Soviet terusir | Giliran Al-Qaeda yang dijadikan musuh oleh Amerika | Maka AS pun berusaha menggulingkan Al Qaeda pada masa kepemimpinan presiden George W Bush dengan tuduhan organisasi garis keras, karena dianggap sebagai ancaman ke depan bagi AS
  29. Dan begitulah watak orang-orang kafir Harbiy | Osama muncul dan dijadikan simbol perlawanan melawan ‘Terorisme’ ke seluruh Dunia | Peristiwa 9/11 diklaim dilakukan oleh Al-Qaeda
  30. Disini muncul pemberitaan tentang Amerika, Al-Qaeda, Terorisme
  31. Nanti, peristiwa pada point 29 terjadi juga dengan aksi Paris Attack yang diklaim oleh ISIS
  32. Tetap fokus
  33. Paragraf di point 21 sudah dibalik bahasanya, dari belakang ke depan, dari Amerika-Uni Soviet, sampai Amerika-Al-Qaeda | Maka sekarang kita akan melihat kalimat paling awal dari point 21, Al-Qaeda dan ISIS
  34. ISIS sebenarnya lahir dari al-Qaeda yang muncul di Irak pada invasi AS
  35. Awalnya Al-Baghdadi membantu mendirikan kelompok militan, Jamaat Jaysh Ahl al-Sunnah wal-Jamaah (JJASJ) | Ia menjabat sebagai kepala Komite penilaian kelompok | Al -Baghdadi dan kelompoknya bergabung dengan Mujahidin Shura Council (MSC) pada tahun 2006, di mana ia menjabat sebagai anggota Komite hukum MSC
  36. Setelah mengubah nama MSC sebagai Negara Islam Irak (ISI) pada tahun 2006, al-Baghdadi Menjadi pengawas umum Komite penghakiman ISI dan anggota dari kelompok Dewan Konsultatif senior
  37. Negara Islam Irak (ISI) juga dikenal sebagai Al-Qaeda di Irak atau AQI-Irak, bagian dari organisasi militan Islam internasional Al-Qaeda. Al-Baghdadi diumumkan sebagai pemimpin ISI pada tanggal 16 Mei 2010, setelah tewasnya pendahulunya Abu Omar al-Baghdadi dalam serangan bulan April
  38. Kesimpulan bagian kedua | ISI (Islamic State of Iraq), artinya klaim Negara Islam Iraq sudah muncul disini | Ingat, wilayahnya adalah Iraq bukan Suriah karena Suriah masih ada di bawah wilayah Jabhat al-Nusra.
  39. Istirahat sebentar | Sekarang, silahkan baca lagi point 19 tentang kesimpulan pertama | Setelah itu baca point 38 tentang kesimpulan kedua….
  40. Menemukan sesuatu?
  41. Saya bantu dengan beberapa hal berikut ini | Di Suriah, baik Mujahidin dan umat, sudah menginginkan tegaknya Khilafah Islamiyah | Di Suriah sudah ada bagian atau sayap dari Al-Qaeda Jabhat al-Nusra | ISI hanya ada di wilayah Iraq bukan Suriah | Di Iraq, invasi sudah berhenti hanya ada perang-perang kecil karena pasukan Amerika, Nato dan sekutu sudah di tarik (Saddam Husain sudah lengser, minyak, emas dll termasuk mengganti dengan pemimpin boneka sudah selesai)
  42. Artinya, ISI seharusnya masih patuh pada pimpinan Al-Qaeda untuk tidak ikut campur di Suriah dan tetap di Iraq | Faktanya ISI kemudian terlibat konflik dengan Jabhat al-Nusra (Al-Nusra Front) yang diketahui sebagai perwakilan Al-Qaeda di Suriah
  43. Pertanyaannya adalah | Kenapa ISI mau ke Suriah saat Isu Khilafah sedang sangat panas? | Bukankah dia sudah menamakan diri sebagai Negara Islam Iraq (Islami State of Iraq)? | Kenapa harus ke Suriah? | Apa tidak ada daerah lain?
  44. Jawaban yang saya temukan di situs pendukung ISIS adalah karena Suriah adalah Syam dimana Syam adalah tanah yang mulia dan dijanjikan
  45. Pertanyaannya, bukankah Syam itu luas? | Palestina juga bagian Syam? | Yordania juga bagian dari Syam | Termasuk Libanon? | Kenapa harus ke Suriah saat isu Khilafah Islamiyah sedang sangat meluas?
  46. Jika ada yang menjawab karena terjadi konflik antara Mujahidin dan pemimpinnya atau terjadi konflik antara Sunni dan Syiah
  47. Pertanyaannya, kenapa bukan ke Palestina? | Bukankah Palestina dari dulu konflik? | Bukankah disitu jelas ada Sunni dan Yahudi? | Kenapa harus ke Suriah sampai bersitegang dengan JN (Jabhah Nushroh)
  48. Ini pertanyaan pertama, kenapa harus ke Suriah? | Fans ISIS mungkin bisa jawab silahkan di analisa
  49. Kita simpan dulu pertanyaan pertama
  50. Setelah masuk ke Suriah, kemudian pada tanggal 29 Juni 2014 (1 Ramadhan), ISIS mengumumkan pembentukan khilafah, al-Baghdadi meresmikan dirinya sebagai Khalifah, dikenal sebagai Khalifah Ibrahim, dan ISIL (ISIS) berganti nama menjadi Islamic State (Negara Islam
  51. Pertanyaan kedua, kenapa di saat isu Khilafah Islamiyah di Suriah sangat meluas kemudian ISIS mendeklarasikan diri lagi sebagai Islamic State setelah sebelumnya menyatakan ISI di Iraq?
  52. Kenapa menamakan diri sebagai Khilafah Islamiyah selagi isu Khilafah Islamiyah di Suriah (dimana pemberitaannya sampai ke Amerika) sedang sangat didambakan Mujahidin dan Ummat di Suriah?
  53. Sudah menemukan benang merah? | Silahkan jawab sendiri yang jelas ini awal dari kacaunya Revolusi Suriah hingga seperti saat ini
  54. Fakta | ISIS berasal awalnya dari Irak | Banyak komandan yang sebagian besar mantan Ba’athist dari militer Irak di bawah Saddam Hussein bergabung | Mereka terorganisasi dengan baik dan memiliki hirarki yang kuat
  55. Fakta | Setelah deklarasi Khilafahnya ISIS kemudian banyak orang-orang Sunni bergabung ISIS karena mereka merasa sedang dibantai oleh pemerintah sektarian Irak | Ketika klan Sunni di dekat Fallujah mulai memberontak pada awal tahun (2014), ISIS di Suriah hanya mengirim 150 pejuangnya
  56. Fakta | Kekuatan untuk menumbangkan rezim Bassar Assad pada kesimpulan pertama di point 19 mulai melemah | Ketika ISIS melawan kelompok pemberontak lainnya (Mujahidin Suriah yang ada di point 19, yang sudah mengampu ide-ide Hizbut Tahrir)
  57. Pada saat ISIS melakukan perlawanan terhadap Mujahidin Suriah dengan mengambil alih wilayah yang dikuasai ternyata pada saat yang bersamaan Assad mampu berkonsentrasi untuk memperkuat kekuasaannya di daerah metropolitan seperti Damaskus dan di pantai (Latakia)
  58. Pertanyaan ketiga, kenapa ISIS tidak langsung menyerang Assad secara langsung? | Kenapa mereka menyerang Mujahidin Suriah?| Kenapa melawan dan menguasai (menyerang, membunuh dan mengambil alih) wilayah Mujahidin Suriah terlebih dahulu dengan alasan memperluas wilayah Khilafah? | Kenapa arahnya tidak langsung dari wilayah yang dikuasai Assad?
  59. Mengapa ISIS menyatakan Al-Raqqa sebagai ibu kota Khilafahnya? | Sedangkan Al-Baghdadi sendiri muncul pertama kali di Mosul di mana ia mengumumkan ‘Kekhalifahan’ | Dia sendiri tidak pernah muncul di Raqqa | Lihat lagi klarifikasi Hassan Ko Nakata yang tidak menemuinya selama 2 kali kunjungan ke Suriah
  60. Menemukan sesuatu?
  61. Kekuatan yang sudah dibangun, yang ada pada point 19 sudah hilang sekarang | Namun masih ada beberapa aliansi Mujahidin yang masih mengampu ide-ide Hizbut Tahrir | Termasuk aliansi yang menolak ISIS
  62. Artinya, isu Khilafah Islamiyah pada point 19 yang sudah mendunia sekarang seakan-akan terbayar dengan berdirinya Khilafahnya ISIS | Seakan-akan itu yang diinginkan ummat Islam di Suriah | Seakan-akan dipaksa agar Khilafah yang mereka inginkan sudah tegak, Khilafah dan Khalifahnya sudah ada
  63. Dari sini kesimpulannya apa? | Ada keyword, Khilafah Islamiyah yang dinginkan Mujahidin dan Ummat seperti point 19 | Muncul Khilafahnya ISIS | Mujahidiin melemah, kekuasaanya diambil alih oleh ISIS | Assad sampai sekarang masih berkuasa | Umat Suriah semakin hancur
  64. Istirahat sebentar….
  65. Kita akan melihat pergerakan ISIS dan strategi Amerika apakah kebetulan atau …..
  66. Kesimpulan Anda terkait pertanyaan point 65 akan menjawab seluruh teka-teki dari berbagai kesimpulan dan pertanyaan, termasuk benang merah dan point intinya dari seluruh apa yang sudah saya sampaikan di atas | Termasuk Anda akan menemukan kaitannya dengan point 31 dengan peristiwa Paris Attack
  67. Baik, kita mulai | Fokus
  68. Coba pikirkan rincian ini, yang akan membantu Anda memahami situasi
  69. Pertama | Revolusi Suriah berlangsung dan Barat seakan mendiamkan hal itu (tidak melakukan apa-apa, tidak mencampuri secara langsung) bahkan di seluruh dunia berada di belakangnya peristiwa Suriah ini | Negara-negara PBB hanya menyalahkan Assad tanpa melakukan apa-apa
  70. Karena dipandang oleh Barat hanya seperti peristiwa Arab Spring lainnya dan bagi Barat itu mudah | Terbukti dari Tunisia hingga Mesir, semua bisa dikontrol dibawah Amerika dan Sekutu
  71. Kembali ke kesimpulan pertama, point 19 | Karena kerja keras anggota Hizbut Tahrir, perlahan perlawanan di Suriah berubah menjadi panggilan untuk penegakkan Khilafah dan penerapan Syariat Islam secara total, dan siapa saja yang tidak menyerukan ini maka dipandang sebagai pengkhianat dan ditolak, seperti Koalisi Nasional Suriah
  72. Atas hal ini, Barat kehilangan kendali atas peristiwa pelawanan yang berubah menjadi menjadi seruan untuk penegakkan Khilafah dan penerapan Syariat Islam secara total dimana ini akan membuat Bashar Assad cepat jatuh
  73. Barat harus mengentikan perubahan itu dan menyelamatkan Assad karena mereka tidak punya kendali atas perlawanan Suriah yang berubah menjadi seruan untuk penegakkan Khilafah dan penerapan Syariat Islam
  74. Maka, Barat pergi ke Hizbolla, Iran, dan lain sebagainya, dan mulai melakukan penangkapan kepada siapa pun yang akan bergabung dengan pejuang Suriah atau mengirim mereka uang
  75. Barat mulai mengutuk siapa saja yang mendukung perlawanan Suriah yang berubah menjadi seruan penegakkan Khilafah | Namun semuanya tidak ada yang berhasil
  76. Barat tidak bisa mengalahkan perlawanan rakyat Suriah dan Mujahidin untuk menegakkan Khilafah dan menerapkan Syariat Islam | Barat juga mulai khawatir akan kejatuhan Bashar
  77. Dan opini publik global sepenuhnya mendukung rakyat Suriah untuk melawan Bashar, sehingga mereka tidak menggunakan jargon ‘demokrasi’ untuk menghentikan perlawanan | Bisa dilihat ketika Assad menawarkan pemilu jika rakyat menghendaki | Namun rakyat pada pendirian awal dan menolak
  78. Disini kita akan menyambungkan masuknya ISIS ke Suriah
  79. ISIS masuk ke Suriah dan perlahan-lahan kehadiran mereka dikenal pada tahun di 2012 atau 2013 | ISIS menyerang umat Islam di daerah yang sudah dibebaskan oleh Mujahidin di Suriah utara, dan berusaha untuk mengambil alih
  80. Orang-orang menolak kepemimpinan ISIS namun menyambut baik bantuan mereka dalam pertempuran melawan Assad
  81. Namun ISIS terus mencoba untuk mengambil alih daerah dibebaskan oleh Mujahidin, “menangkap” orang-orang yang menolak untuk tunduk di bawah kepemimpinan mereka, sampai kedua belah pihak mulai berkelahi satu sama lain | Lihat kembali point 56, 57 dan 58
  82. Ini sama seperti yang dikatakan oleh Hassan Abboud ( salah serorang pimpinan Mujahidin yang paling kuat dan besar di Suriah, yang bernama Brigade Ahrar al-Sham) dan pemimpin lainnya yang mengatakan bahwa ISIS lebih berbahaya daripada Assad, karena ISIS ada di sana untuk menghancurkan perlawanan rakyat dan Mujahidin Suriah terhadap Assad dari dalam
  83. Kembali ke point 56, 57 dan 58 | ISIS telah mengambil energi dengan porsi yang sangat besar dari ummat Islam di Suriah dan Mujahidin | Dimana ini membuat perlawanwan TERHADAP Assad semakin melemah | Kedua kubu (ISIS dan Mujahidin Suriah) mulai saling menyerang
  84. Itu langkah pertama ISIS | Langkah kedua dan ketiga akan saya paparkan
  85. Langkah kedua ISIS di Suriah
  86. Kemudian ISIS mengambil langkah kedua mereka, untuk membuat orang-orang berhenti menyerukan penegakkan Khilafah
  87. Perlawanan Suriah difokuskan pada gagasan untuk mendirikan kembali Khilafah, dan Hizbut Tahrir bekerja sama dengan para pejuang Suriah yang tulus mencoba untuk menyatukan mereka dan mengakhiri perselisihan di antara mereka
  88. ISIS mengklaim dirinya menjadi Khilafah setelah sebelumnya juga mengaku menjadi “Negara Islam” di Irak, dan kemudian “Negara Islam” di Syam | Keduanya kita tahu bahwa klaim tersebut adalah klaim omong kosong karena tidak memenuhi 4 syarat Khilafah | Lihat postingan bagian I dan 2 sebelumnya
  89. Tepat setelah melakukan klaim Khilafah tersebut |ISIS menunjukkan caranya dengan berperilaku sangat kejam dan tanpa ampun | Dimana ini ternyata membangun opini tersendiri bahwa Khilafah adalah representasi dari kekerasan Islam tanpa ampun kepada siapa saja
  90. Dan ternyata representasi itulah yang sering disampaikan oleh Barat bahwa Khilafah adalah ajaran yang berbahaya | Khilafah ajaran kekerasan
  91. Dari sini bisa dinilai bahwa apa yang ISIS lakukan seolah mendukung pernyataan Barat tentang apa dan bagaimana itu Khilafah
  92. Kita bisa lihat, setiap Barat merepresentasikan sebuah kekerasan, apa yang ada dibenak mereka? Pemenggalan, memotong tangan, mencambuk, membunuh orang yang murtad, dan sebagainya
  93. Padahal, selama ini, selama 13 abad apa hakikat dari Khilafah? | Yakni keadilan, kemakmuran masyarakat, toleransi, distribusi kekayaan, dan sebagainya
  94. Bisa dilihat, versi Khilafah mana yang ISIS gambarkan? | Apakah Khilafah dengan makna kekerasan seperti yang Barat sampaikan atau seperti gambaran 13 abad lamanya?
  95. Kemudian ISIS mengambil langkah ketiga mereka
  96. Langkah ketiga adalah membantu AS untuk membagi Irak menjadi tiga negara (kekuasaan) yang lebih kecil | Ini adalah bagian rencana AS dimana AS terlah berusaha sangat keras untuk mencapainya sejak invasi tahun 2003 | Dan ini ternyata sudah direncanakan sejak Perang Dunia 2
  97. Maka kita bisa melihat ISIS ‘diberikan’ kota Mousul di Iraq beserta sebagian besar kota yang dihunni oleh orang-orang “Sunni” dan dipertahankan agar tidak jatuh di tangan ISIS dengan bersusah payah
  98. Siapa pun yang berpikir akan merasa ada kejanggalan ketika 25.000 tentara Iraq yang ada di Mousul lari begitu saja tanpa melakukan apa-apa untuk menghadapi 800 pasukan ISIS | Padahal di Mousul ada barak yang berisi senjata, Helicopter, Tank dan lain-lain
  99. Coba Anda bayangkan | 25.000 tentara Iraq, beserta barak Militernya yang berisi senjata, granat, tank dan Helicopter pergi begitu saja meninggalkan Mousul | Apa iya ada yang tidak aneh?
  100. Sebegitu mudahnya kah diberikan kekuasaan? | Rosulullah saat ditawari kekuasaan oleh Quraisy saja tidak mau | Bahkan Sahabat dalam pertempuran atau perang pun tidak pernah mengalami kemenangan yang begitu janggal
  101. Terlebih ternyata ada informasi dari militer Iraq (di Baghdad) yang menyuruh tentaranya untuk pergi meninggalkan Mousul dan menyerahkan semua alustista kepada pihak militant (ISIS) | Apakah hal demikian disebut keajaiban? | Atau memang bagian dari rencana?
  102. Setelah peristiwa Mousul yang begitu janggal | Pada hari jumat | Al-Baghdady muncul di internet dengan memakai baju serba hitam | Padahal ibu kota ada di Raqqa | Kenapa muncul di Mousul? | Kenapa muncul setelah peristiwa ‘janggal’ tersebut?
  103. Bukti bahwa ini adalah bagian dari rencana atau strategi AS adalah ketika ISIS mendekati daerah dimana didaerah tersebut AS ingin mendirikan negara Kurdi | AS membom pasukan ISIS tanpa ampun seperti tidak ada hari esok | Namun sangat berbeda ketika ISIS mengambil Mousil yang seakan tanpa tersentuh (perlawanan) apapun karena tentara Iraq meninggalkan Mousul begitu saja
  104. Jika beberapa hari atau bulan kedepan ada berita bahwa AS menyerang ISIS di Suriah itu karena ISIS sudah tidak ‘dibutuhkan’ lagi di Suriah, tapi masih di Iraq | Ini sama seperti gambaran pada point 29 atau 31
  105. Kenapa? | Karena pada awalnya Amerika ingin mengganti Assad dengan boneka lain layaknya peristiwa Arab Spring lainnya untuk memuaskan rakyat Suriah | Namun faktanya, tidak ada orang yang bisa menggantikan Assad karena dari pihak pemberontak (Mujahidin dan rakyat Suriah) tidak ada yang percaya lagi | Sedangkan kalau Assad dipertahankan peristiwa pada point 19 akan terulang lagi
  106. Maka AS akan tetap menjaga Assad sampai menemukan boneka yang lebih tepat | Ini berdasarkan konferensi di Wina yang memutuskan atas nama rakyat Suriah bahwa “pemilu” akan diadakan kembali (untuk memuaskan rakyat Suriah)
  107. Satu hal yang jelas adalah Barat akan menggunakan serangan udara dengan Rusia dan Perancis, dan koalisi yang akan datang, untuk menekan rakyat Suriah untuk menerima solusi AS (Pemilu) dan tidak hanya akan menyerang ISIS
  108. Dan serangan ini dimulai menjadi sangat legal setelah Peristiwa Paris Attack | Anda bisa lihat analisa saya terkait Paris Attack pada status saya sebelumnya | Dan Paris Attack ini juga ternyata ‘menyerang’ kaum Muslim di Perancis atau para Muallaf | Satu pelur, dua burung tertembak
  109. Yang mengherankan, sebagian besar serangan udara Rusia adalah kepada rakyat Suriah yang menentang Assad dan tidak pada wilayah yang dikuasai ISIS | Dan begitu juga ketika Barat dikatakan membom ISIS padahal nyatanya yang di bom adalah rakyat Suriah
  110. Jadi, bagaimana kesimpulan Anda? | Strategi Amerika di Suriah dan manuver pergerakan ISIS di Suriah apakah kebetulan atau …. | Jawab sendiri di kolom komentar

Baca lebih lanjut

KHILAFAH ADALAH AJARAN ISLAM, BUKAN KEJAHATAN

934774_774467482605180_4411683312028288878_n[Al-Islam edisi 717, 19 Syawal 1435 H-15 Agustus 2014 M]
Perbincangan tentang ISIS dan Khilafah menghangat di media massa dan di masyarakat akhir-akhir ini. Di antara pemicunya adalah peredaran salah satu video yang diunggah di Youtube. Video tersebut berisi seruan anggota ISIS dari Indonesia kepada umat Islam di Indonesia agar bergabung dengan organisasi itu.
Isu ISIS dan Khilafah pun bergulir. Banyak pihak berkomentar. Pemerintah meminta masyarakat mewaspadai dan mencegah organisasi itu berkembang. Kelompok sekular memanfaatkan isu itu untuk memukul apa yang mereka katakan sebagai paham radikal.

Sikap Proporsional

Bagi pihak yang tidak suka terhadap Islam, isu ISIS dijadikan sebagai kesempatan untuk menjauhkan masyarakat dari idekhilafah. Mereka kemudian menyimpangkan konsep khilafah dan melakukan ‘monsterisasi’ khilafah. Mereka berupaya menanamkan ketakutan atau paling tidak keengganan terhadap ide khilafah. Caranya dengan mengaitkan isu tersebut dengan terorisme, aksi kekerasan dan kejahatan. Mereka pun melekatkan keburukan pada ide khilafah. Isu ISIS di Indonesia dan ide khilafah yang terus diulang-ulang tanpa disertai penjelasan memadai tentu bisa menjadi bagian dari upaya ‘monsterisasi’ itu.

Semua pihak, khususnya Pemerintah, seharusnya menyikapi isu ISIS secara proporsional. Penolakan terhadap organisasi yang mengklaim telah mendeklarasikan Khilafah itu berikut berbagai tindakan kekerasan yang mereka lakukan jangan sampai diperalat oleh pihak-pihak tertentu, khususnya yang tidak suka terhadap Islam, untuk melakukan ‘monsterisasi’ syariah dan khilafah sehingga menjadi penolakan terhadap syariah dan khilafah. Upaya ‘monsterisasi’ itu malah dapat menimbulkan masalah baru karena bisa mengkriminalisasi ide khilafah yang bersumber dari ajaran Islam.

Khilafah: Ajaran Islam

Khilafah adalah ide Islam. Karena itu Khilafah harus didukung oleh umat Baca lebih lanjut

Masuk Parlemen Agar Parlemen Tidak Dikuasai Oleh Musuh-Musuh Islam?

Rubah dari dalamMereka menyatakan bahwa, jika kaum muslim tidak berhasil menguasai parlemen, atau jika parlemen dikuasai oleh musuh-musuh Islam, akan membahayakan eksistensi Islam dan kaum muslim. Sebab, parlemen merupakan lembaga yang akan memproduk aturan-aturan yang akan diterapkan di tengah-tengah masyarakat. Jika parlemen dikuasai oleh orang-orang kafir, tentu pranata yang diterapkan akan merugikan umat Islam. Padahal, menghilangkan bahaya bagi kaum muslim merupakan kewajiban. Mereka mengetengahkan kaedah fiqh yang sangat masyhur, “Al-dlarar yuzaalu” [bahaya harus dihilangkan], dan “ al-Ashl fi al-madlaari al-tahriim” [hukum asal dari bahaya adalah haram]

Bantahan Atas Argumentasi

Argumentasi tersebut tertolak berdasarkan kenyataan-kenyataan berikut ini.

Pertama, fakta sekarang justru menunjukkan, bahwa Baca lebih lanjut

Menyoal Perjuangan Bersenjata Untuk Menegakkan Daulah Islamiyah

ArmyBenarkah Daulah Islamiyah tidak bisa ditegakkan kecuali dengan mengangkat senjata? Benarkah kekuasaan tidak akan mungkin diserahkan kepada kelompok-kelompok Islam, kecuali kelompok Islam tersebut melakukan kudeta militer?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kaum Muslim mempertimbangkan beberapa analisis berikut ini.

Pertama: sejatinya unsur-unsur penting yang membentuk eksistensi sebuah negara adalah manusia, pemikiran, perasaan dan aturan. Di antara unsur-unsur tersebut, pemikiran dan aturan merupakan faktor dominan yang menentukan bentuk dan corak sebuah negara. Negara Islam, misalnya, adalah negara yang menjadikan akidah Islam sebagai pandangan hidup dan dasar negara serta menjadikan syariah Islam sebagai satu-satunya aturan yang mengikat seluruh warga negara. Sebaliknya, negara kafir adalah negara yang menjadikan akidah dan hukum kufur sebagai dasar dan konstitusi negara.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa mengubah Baca lebih lanjut

Hizbut Tahrir itu ormas yang tidak memberi nilai positif bagi bangsa..?

Dialog imajiner.

A : Anda dari Hizbut Tahrir ?
B : Betul saudaraku.
A : Hizbut Tahrir itu adalah organisasi yang tidak memberi nilai positip bagi bangsa. Tidak seperti organisasi keislaman lainnya seperti …, …, …., ….. Bahkan Hizbut Tahrir adalah organisasi yang merongrong negara.
B : Klaim anda itu salah saudaraku ….
A : Salah ? Coba apa kiprah positip Hizbut Tahrir pada bangsa ini ?
B : Kiprah terbaik dari setiap organisasi adalah berkiprah untuk menyelamatkan bangsa dan membawanya kepada ke kesejahteraan.
A : Betul. Itulah yang telah dilakukan oleh organisasi yang saya sebut tadi. Bekerjasama dengan negara memperbaiki negeri, bukan merongrong seperti yang dilakukan Hizbut Tahrir.
B : Kenapa anda sebut merongrong ?
A : Hizbut Tahrir telah menolak Pancasila yang merupakan dasar negara, menolak Demokrasi yang sudah merupakan sistem yang dipakai negara.
B : Begini saudaraku. Hizbut Tahrir misinya adalah menyelamatkan bangsa ini. Hal pertama yang kami caritahu adalah apa penyebab bangsa ini terperosok dalam kesulitan dan kegelapan seperti sekarang ini. Setelah kami tahu dan yakin penyebabnya, maka kami memberi solusi agar bangsa ini bisa selamat.
A : Oke. Lantas kenapa harus sampai menolak Pancasila dan Demokrasi ?
B : Karena menurut kami, permasalahan bangsa ini pangkalnya dari dua hal tadi. Pancasila dan Demokrasi.
A : Pancasila penyebab semua kemerosotan ini ? Ha..ha… anda maksa banget. Bagaimana mungkin Pancasila yang merupakan Ideologi yang penuh dengan kebijaksanaan itu menjadi akar masalah ?
B : Karena Pancasila itu ada di tulisan, ada di perkataan, tapi tidak ada di prakteknya.
A : Maksudnya ?
B : Pancasila itu hanya ilusi. Jika Pancasila itu sbuah ideologi yang seperti anda klaim tadi, maka pasti Pancasila itu punya sistem ekonomi, sistem pendidikan, sistem kenegaraan dsbnya. Saat ini, sistem ekonomi kita justru sistem kapitalisme, bahkan kapitalis liberal. Sistem negara, sistem Demokrasi. Sistem pendidikan, sistem Sekuler, Pluralisme ? Pancasilanya dimana ?
A : Salah bung. Ekonomi kita Kapitalis Pancasila. sistem negara Demokrasi Pancasila.
B : Begitu ? Bisa bung tunjukkan apa beda Demokrasi tulen Amerika dengan Demokrasi Pancasila Indonesia ? Kapitalisme tulen Amerika dengan kapitalisme Indonesia ?
A : ……………………………
B : Jadi penempatan kata Pancasila itu hanyalah klaim tak berwujud. Itulah permasalahan kita. Karena Pancasila itu tidak bisa memberikan aturan kehidupan, akhirnya kita terjajah oleh aturan/ideologi asing, seperti Demokrasi, Kapitalisme, Sekulerisme, Liberalisme dll. Jadilah kita bangsa yang tidak punya jati diri. Ini maslah besar bung. Permasalahan semakin lengkap ketika sudahlah Pancasila tidak bisa mengatur negeri, kita salah pula mengambil aturan. Kita justru mengambila aturan Demokrasi yang cacat.
A : Anda ini gampang sekali main vonis. Dimana cacatnya Demokrasi ?
B : Kita melihat sesuatu itu dari siapa sipembuatnya. Siapa pembuat sistem Demokrasi ?
A : Manusia.
B : Nah itu dia. Manusia itu adalah mahluk yang terbatas ilmu dan akalnya. Maka segala aturan yang dibuat hanya berdasar ilmu dan akal manusia belaka, pasti akan mengandung cacat, sebagai konsekwensi dari sipembuatnya adalah mahluk yang punya keterbatasan.
A : Contohnya ?
B : Manusia tidak akan tahu kondisi apa yang akan ada sepuluh tahun ke depan, misalnya. Maka ketika dia membuat aturan, aturan itu hanya aturan yang akan terus berubah menyesuaikan keadaan. Kemudian, manusia itu tidak akan pernah sependapat apa yang baik dan apa yang buruk bagi mereka, maka pada setiap aturan, yang dihasilkan adalah aturan yang dianggap baik oleh sebagian besar/mayoritas, bukan dianggap baik oleh keseluruhan. Dua hal ini mengandung resiko sangat besar bagi kelangsungan sebuah bangsa, karena cenderung akan memunculkan konflik-konflik dan kerusakan akibat aturan yang cacat tadi.
A: Hah … buktinya hampir seluruh negara justru memakai Demokrasi. Jika Demokrasi itu buruk, pasti tidak akan dipakai.
B : Negara Barat itu memakai Demokrasi, karena mereka tidak menemukan lagi ada yang lebih baik darinya. Itu sudah upaya maksimal akal manusia. Jika mereka punya sesuatu yang lebih baik dari Demokrasi, pasti Demokrasi itu akan mereka campakkan. Jadi mereka memakainya bukan dengan “harga mati”, tapi karena ituah yang terbaik menurut mereka.
A : Terus apa yang lebih baik dari Pancasila ? Syariat Islam ? Bukankah syariat Islam juga, kekhalifahan dulu juga akhirnya runtuh ? Jika itu baik, kenapa kekhalifahan bisa runtuh ?
B : Seperti saya sebut tadi, melihat sesuatu itu benar atau tidak, haruslah lihat siapa si pembuatnya. Kami, Hizbut Tahrir memang menyodorkan Syariat Islam sebagai ganti Demokrasi dan Pancasila. Ini bukan semata karena kami muslim. Ini semata karena kami yakin bahwa syariat Islam itu adalah aturan paling sempurna, karena pembuatnya adalah Allah, Tuhannya Manusia, Allah Pencipta Alam Semesta, Allah yang ilmunya tidak terbatas.
Perkara kekhalifahan runtuh, itu samasekali bukan karena buruknya aturan, tapi buruknya penerapan aturan. Statementnya mungkin akan lebih positip jika dibalik : ” Dengan aturan yang paling baik, yang berasal dari Allah SWT saja, negara akhirnya bisa runtuh, apalagi jika aturannya buatan manusia.”
Kekhalifahan itu telah berhasil mensejahterakan umat yang bukan saja muslim yang menjadi warganya sepanjang lebih dari 13 abad. Lha, Indonesia yang ber Demokrasi Pancasila ini, jangankan berabad, satu hari saja tidak pernah bisa melepaskan diri dari kemiskinan, kerusakan moral dan lainnya. Malah yang terjadi faktanya semakin lama semakin kacau tidak karuan.
A : tetap ketika Hizbut Tahrir menolak Pancasila dan Demokrasi, itu adalah rongrongan pada negara …
B : Anda ini mau menyelamatkan bangsa atau mempertahankan Pancasila Demokrasi ? Ucapan anda barusan sama saja dengan analogi seorang guru memerintahkan seluruh muridnya untuk membersihkan ruangan kelas. Semua harus berpartisipasi dan akan dihukum siapa yang menolak karena dianggap tidak membantu. Namun guru tersebut memberi ketentuan, semua harus memakai sapu yang sudah disediakan. Sementara sapu yang tersedia itu ternyata sapu yang penuh dengan kotoran.
Sikap murid gimana ? Perintahnya kan membersihkan kelas. Bagaimana sikap guru tersebut jika salah seorang muridnya menolak memakai sapu kotor tersebut dan hendak mengambil sapu yang bersih dari rumahnya ???? Menganggapnya merongrong atau mengapresiasinya ????

 

TUJUAN NEGARA ISLAM

Diskursus negara Islam tak boleh dijadikan barang tabu bagi seorang muslim. Adalah aneh jika ia dengan bangga menjual istilah ekonomi Islam, hukum Islam, pendidikan Islam, sekolah Islam, rumah sakit Islam, masyarakat Islam, tapi saat sampai pada istilah negara, ia malu – atau lebih tepat takut dan minder – untuk menyematkan label Islam. Ia lalu gagap untuk menyebut negara Islam.

Padahal sirah nabawiyah memberi bukti tak terbantahkan, bahwa Nabi saw mendirikan negara Islam. Saat itu Demokrasi belum lahir, komunis belum muncul, jahiliyah telah mati. Tak ada pilihan istilah lain untuk menyebut negara yang dibangun Nabi kecuali negara Islam.

Hal ini untuk membantah pandangan mayoritas umat Islam yang tak berani menerjemahkan istilah darul Islam dengan negara Islam. Biasanya diperhalus dengan ungkapan: negeri yang tegak nilai-nilai Islam di dalamnya.

Jika keengganan menyebut istilah negara Islam karena tak tahu, tugas kita memberi tahu melalui dakwah. Jika karena malu, harus dibimbing untuk bangga dengan Islam. Jika karena takut, harus dimotivasi bahwa setiap muslim pasti menghadapi ketakutan-ketakutan, tapi ketakutan itu tak boleh membuat kita mati kutu. Harus selalu bergerak untuk menghilangkan rasa takut ini.

Negara Islam bukan tujuan, tapi sarana.

Negara Islam Baca lebih lanjut

Negara Islam ( Khilafah ) Tidak Bertentangan dengan Pancasila

KIYAI PANCASILA

Oleh : Revolusi al Fatih

Pernah suatu ketika, saya mampir di sebuah masjid pinggir jalan, waktu itu ba’da isya sekitar jam 19.45 wib. Disitu kebetulan sedang ada pengajian, kalau tidak salah ustadznya kiyai **sensor** abis, lulusan **sensor** & lulusan UIN.

Saya sendiri gak begitu kenal. Tema pengajiannya sih biasa aja, tentang akhlak gitu. Maka setelah kiyai ngasih ceramah seki
tar 30 menit, terjadilah tanya jawab sbb:

>>Jamaah: “Asslm wr wb. Kiyai mau tanya nih, Pancasila itu bertentangan dengan Islam gak?”

>>Kiyai: “Wsslm wr wb. Pancasila gak bertentangan dengan Islam, Karena sila ke satunya Ketuhanan yg Maha Esa, masih mirip tauhid-lah, jadi gak yah”

>>Jamaah: “Terus Kalau Khilafah (Sistem Pemerintahan sesuai tuntunan Rasul saw) bertentangan dengan Pancasila gak?”

>>Kiyai: “Apalagi itu, gak lah.. (sang Kiyai terdiam sejenak)… Jadi Gini, Pancasila itu kan untuk persatuan dan kesatuan negeri ini, makanya sila ke 3 persatuan Indonesia, sedangkan Khilafah kata para ulama itu mempersatukan Umat Islam, jadi nyambung, gak bertentangan…”

>>Jamaah: “Trus Kiyai, berarti kita harus Pancasilais dong, kan katanya Pancasila Gak Bertentangan dengan Islam?” Baca lebih lanjut

Tantangan-Tantangan Potensial Pasca Berdirinya Khilafah

Oleh : Ir. H. Muhammad Ismail Yusanto, M.M.

khilafah1. Khilafah Sudah Dekat

Walaupun umat Islam seluruh dunia kini masih tertindas dipenjara sistem sekuler yang kufur, indikasi-indikasi kembalinya Khilafah semakin jelas. Kembalinya Khilafah kini bukan lagi sebatas harapan yang diliputi keraguan seperti halnya tahun 50-an atau 60-an abad lalu, namun telah menjadi keniscayaan yang tidak dapat dihindari lagi. Keniscayaan itu bagaikan kepastian datangnya sinar fajar yang terbit setelah malam yang hitam. Bukankah fajar pasti akan tiba, setelah malam yang gelap gulita?

Indiasi-indikasi dekatnya Khilafah itu antara lain ditunjukkan oleh fakta-fakta berikut : Pertama, umat semakin sadar akan keislamannya. Jika dulu umat tertipu dengan ide-ide Barat seperti sekularisme, pluralisme, liberalisme, dan demokrasi, kini mereka telah sadar. Pada tahun 2005, Majelis Ulama Indonesia (MUI), misalnya, telah memfatwakan haramnya ide sekularisme, pluralisme, liberalisme. Jadi ide-ide itu telah dipahami sebagai ide-ide kafir yang bertentangan dengan Islam seratus persen.

Kedua, umat telah menginginkan Khilafah. Jika dulu saat hancurnya Khilafah tahun 1924 umat kurang menunjukkan sikap yang seharusnya, yakni berani mati untuk mengembalikan Khilafah, kini sikap mereka lain. Mereka kini merindukan Khilafah, menjadikan Khilafah sebagai masalah utama (al-qadhiyah al-mashiriyah), dan karenanya bersedia mati di jalannya. Di berbagai negeri Islam misalnya Palestina, Iraq, Afghanistan, dan di Uzbekistan, terbukti tak sedikit generasi umat ini yang rela mengorbankan nyawa demi Khilafah.

Ketiga, umat telah menginginkan persatuan. Jika di pertengahan abad 20-an umat banyak terkecoh dengan nasionalisme dan patriotisme sebagai slogan kemerdekaan dari penjajahan, kini mereka telah sadar. Nasionalisme telah disadari menjadi pemecah belah persatuan umat Islam seluruh dunia melalui lebih dari 50-an nation-state.

Keempat, umat telah mengetahui musuh-musuhnya. Jika sebelumnya umat menganggap negara-negara Barat seperti Amerika Serikat (AS) sebagai dewa penolong atau negara sahabat, kini umat insyaf. Kebiadaban AS terhadap umat Islam di Afghanistan, Irak, dan Palestina, juga di Guantanamo dan Abu Ghraib, lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa AS dan negara-negara kapitalis lainnya adalah negara penjajah dan musuh umat yang nyata.

Kelima, Amerika Serikat kini jatuh dalam kesulitan. Sebelumnya umat memandang AS sebagai negara super power yang hebat dan tak terkalahkan. Tapi kini umat sudah sadar. Berbagai kekalahan atau kesulitan AS di Afghanistan, Irak, termasuk kekalahan memalukan Israel yang didukung penuh oleh AS di Lebanon pada musim panas 2006, membuktikan AS tidaklah sekuat yang dimitoskan.

Keenam, wibawa penguasa telah jatuh di mata umat. Jika sebelumnya umat percaya penguasa mereka adalah pelindung mereka, kini umat telah membuang kepercayaan itu. Para penguasa itu kini telah disadari sebagai para pengkhianat dan agen-agen penjajah yang kafir, khususnya AS. Umat Islam Indonesia misalnya, semakin paham posisi Presiden SBY, setelah yang bersangkutan menerima George W. Bush yang kafir dengan penuh hormat, padahal umat Islam Indonesia menolak Bush mentah-mentah.

Berdasarkan tanda-tanda itu, kembalinya Khilafah bukanlah sesuatu yang jauh, melainkan sudah dekat. Maka fokus perjuangan mengembalikan Khilafah sesungguhnya bukan lagi memperkenalkan apa itu Khilafah, atau menjelaskan wajibnya Khilafah kepada umat –meski semua aktivitas ini tetap wajib dilakukan– sebab semua pemikiran dasar ini telah tertanam dalam hati dan pikiran umat. Fokus kita sekarang adalah terus berusaha melakukan thalabun nushrah (seeking the power) untuk memperoleh kekuasaan dan memikirkan dengan serius tantangan-tantangan yang akan terjadi pasca berdirinya Khilafah nanti.

2. Optimisme Menghadapi Tantangan Baca lebih lanjut

PELUANG BISNIS DI BULAN PERTAMA TEGAKNYA DAULAH KHILAFAH

Daulah Khilafah itu unpredictable.. tegaknya bisa aja tahun depan, bulan depan, atau bahkan besok.

Tegaknya sudah pasti. Cuma tanggalnya memang belum dikasih tahu.

Sekedar informasi, tegaknya khilafah tak hanya bikin keuntungan berupa kedamaian, keamanan, ketenteraman. Tapi juga kesejahteraan. Di samping kesejahteraan dalam bentuk makro, tegaknya khilafah juga akan membuka berbagai peluang bisnis ekonomi mikro bagi para pengusaha yang jeli. Berikut, adalah beberapa peluang bisnis yang bisa dijalankan di bulan awal tegaknya khilafah: Baca lebih lanjut

Beberapa Catatan Buku “Membongkar Proyek Khilafah ala HT di Indonesia”

BEBERAPA CATATAN BUKU MEMBONGKAR PROYEK KHILAFAH ALA HT DI INDONESIA (BAGIAN PERTAMA)
Oleh :Wahyudi Abu Syamil Ramadhan

Pada bagian pengantar penulis hlm. xviii penulis menyatakan:

“pada akhir-akhir menjelang kembali “pulang”, penulis mulai merasakan adanya dimensi “ketidakmenerimaan” atas apa yang dilakukan para ikhwan dan pengurus HTI dalam memperjuangkan cita-cita puncak mereka: Negara Islam…”.

Tanggapan:
Penulis yang mengaku pernah menjadi hizbiyyin tentu tahu persis bahwa tujuan HT adalah melanjutkan kehidupan Islam (isti’naful hayati al islamiyyah), sedang khilafah (Negara Islam) adalah metodenya (bi thariqati iqaamatil khilafah). Maka jelas tujuan puncak HT adalah melanjutkan kehidupan Islam yang terputus sejak runtuhnya khilafah Ustmaniyyah pada tahun 1924.

Selanjutnya penulis mengutip tulisan di majalah al wa’ie tentang apakah HT Wahabi?

“…Penegakkan khilafah untuk mengembalikan ke daulatan di tangan Allah lebih penting dan lebih utama untuk direalisasikan daripada masalah akidah” (hlm. 40)

Tanggapan:
Kalimat di atas jika tidak ditulis secara utuh berpotensi menimbulkan kesalahpahaman. Berikut kami kutipkan redaksi lengkap dari tulisan yang dikutip penulis:

Pandangan ini, menurut Hizb, sebagaimana disebutkan dalam kitab Nidâ’ al-Hâr, tidak proporsional. Betul, bahwa ada masalah dalam akidah umat Islam, tetapi tidak berarti mereka belum berakidah Islam. Bagi Hizb, umat Islam sudah berakidah Islam. Hanya saja, akidahnya harus dibersihkan dari kotoran dan debu, yang disebabkan oleh pengaruh kalam dan filsafat. Karena itu, Hizb tidak pernah menganggap umat Islam ini sesat. Hizb juga menganggap, bahwa persoalan akidah ini, meski penting, bukanlah masalah utama. Bagi Hizb, masalah utama umat Islam adalah tidak berdaulatnya hukum Allah dalam kehidupan mereka. Karena itu, fokus perjuangan Hizb adalah mengembalikan kedaulatan hukum Allah, dengan menegakkan kembali Khilafah.

Bagi Hizb, akidah umat harus dibersihkan agar bisa menjadi landasan yang kokoh dalam kehidupan pribadi, masyarakat dan negara. Setelah itu, akidah yang hidup di dalam diri umat ini akan mampu membangkitkan mereka dari keterpurukan, dan akhirnya mendorong mereka untuk memperjuangkan tegaknya Khilafah dan hukum Allah di muka bumi. [1]

Pada halaman 59 penulis mengutip Zeyno Baran dalam hal menyamakan HT dengan Bolshevik: “ HT sangat mirip dengan Bolshevik. Yang sama-sama mempunyai utopian ultimate goal (Communism vs. Chaliphate) dan sama-sama tidak menyukai liberal democracy dan sama-sama berupaya menegakkan mythical just society…”.

Tanggapan:
Apa maksud dari kutipan di atas? Padahal penulis sedang menjelaskan bahwa diantara metode HT untuk meraih tujuannya adalah nirkekerasan. Apakah kalimat di atas sengaja dikutip untuk menggambarkan HT sebagai monster yang membahayakan atau setidaknya melabelkan bahaya laten. Padahal di halaman 172-173 penulis mengakui kemungkinan tegakkan khilafah, sekecil apapun kemungkinan itu.

Jadi, menafikan kemungkinan terwujudnya khilafah adalah sikap gegabah dan terburu-buru, seperti kesimpulan yang disampaikan oleh Abd. Moqsith Ghazali dan Farish A. Noor, pengamat politik dan HAM Malaysia (hlm. 172). Potensi kea rah tegaknya khilafah memang kecil, tetapi bukan sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan (hlm. 173)

Lebih dari itu eksistensi khilafah bukanlah suatu hal yang utopia. Khilafah adalah realitas sejarah yang tidak dapat dipungkiri. Berbeda dengan masyarakat komunisme yang belum pernah ada realitasnya.
Di halaman 60,  ditulis:

“Kekerasan apa pun bentuknya jelas dilarang-kecuali dalam kondisi tertentu- sebagaimana dijelaskan dalam satu hadist Nabi:

Kami tidak akan merebut perkara (kepemimpinan) dari ahlinya. Nabi bersabda, kecuali kalian melihat kekufuran yang nyata yang kalian bisa membuktikan di hadapan Allah (HR. Bukhari)[2]

Namun demikian, terdapat paradox dalam salah satu karya an-Nabhani yang menjelaskan kewajiban memerangi penguasa yang menampakkan kekufuran secara nyata dengan menerapkan hukum kufur”[3]

Tanggapan
Saya heran dan binggung dengan apa yang dimaksud paradoks. Bukankah tidak terdapat paradoks antara hadist yang dikutip dalam kitab afkaru siyasiyah dengan kesimpulan yang dikutip penulis dalam kitab Mitsaq al-Ummah dan kitab asy syakhshiyyah al islamiyyah juz II.

Jelas bahwa kondisi tertentu yang dibolehkan memerangi penguasa yang Nampak darinya kekufuran yang nyata. Diantara kekufuran yang nyata adalah mengubah sistem Islam yang diterapkan suatu Negara dengan sistem selain Islam.

Di halaman 63 penulis menulis:

“ Demikian pula anggota HTI diharamkan mendirikan organisasi sosial/yayasan sosial, pesantren, sekolah, koperasi, kantor tenaga kerja, balai latihan kerja. Namun, bukankah sebagian anggota HTI tahun 2000-an mendirikan lembaga pendidikan di Surabaya (SBI dan STIES) dan lembaga kursus computer”.

Tanggapan:

Mengapa pernyataan di atas (kalimat pertama) tidak didasarkan referensi atau catatan kaki sedikit pun?. Padahal penulis mengklaim bahwa penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research). Bagaimana membangun kontradiksi sementara kontradiksi tersebut dibangun berdasarkan asumsi. Fatalnya lagi asumsi tersebut tidak benar. Di kitab mutabannat atau nasyrah HT mana yang melarang syabab HT (sebagai individu) membangun sekolah, pesantren, dan lembaga usaha?

Pada halamana 69 penulis menyatakan:

Setelah mengutip hadist di atas (HR. Ahmad tentang fase umat Islam dan kembalinya khilafah rasyidah), mereka menambahkan dengan surah an-nur ayat 55 yang berisi janji Allah kepada orang-orang yang beriman. Lalu mereka menjelaskan bahwa

إننا في حزب التحرير نؤمن بوعد الله و نصدق بشري رسول الله

(kami di hizbut tahrir mengimani janji Allah dan membenarkan kabar gembira Rasulullah). Menariknya, hadist di atas yang bukan hadist mutawatir, dijadikan sebagai “iming-iming” yang diyakini dan dibenarkan.”

Tanggapan:

Penulis saya kira terbalik saat menyatakan “Setelah mengutip hadist di atas, mereka menambahkan dengan surah an-nur ayat 55…”. Yang benar adalah ayat 55 dari surah an-Nur dikutip lebih awal, baru hadist di atas.[4]

Jika penulis jeli dari kitab di atas, pilihan kata yang digunakan juga sangat jelas. Bahwa untuk janji Allah mengunakan redaksi kami mengimani (نؤمن) sedang terhadap hadist digunakan redaksi kami membenarkan (نصدق). نؤمن adalah redaksi untuk menunjukkan pemenaran yang bersifat pasti (at tashdiq al jazm), sedang redaksi نصدق tanpa tambahan jazm menunjukkan tashdiq atau pembenaran secara umum. Sehingga clear sikap HT terhadap hadist di atas membenarkan hanya saja tidak dengan pembenaran yang bersifat pasti. Dimana tidak konsistennya?

Adapun jika ucapan khilafah pasti akan berdiri, karena khilafah merupakan janji Allah. Padahal Allah SWT pasti terwujud karena Allah tidak pernah menyelisihi janji-Nya. Mengomentari ayat 55 dari surah an-Nur Imam Ibnu Katsir menyatakan:

هذا وعد من الله لرسوله صلى الله عليه وسلم  . بأنه سيجعل أمته خلفاء الأرض، أي: أئمةَ الناس والولاةَ عليهم، وبهم تصلح  البلاد، وتخضع  لهم العباد 

Ini adalah janji dari Allah SWT bagi Rasul-Nya saw. Bahwa Allah akan menjadikan umat Nabi saw pemimpin-pemimpin di bumi, yaitu: pemimpin manusia dan wali-wali mereka, dan negeri-negeri menjadi baik, dan tunduklah hamba-hamba.[5]

Di halaman 80 penulis menyatakan:

“adapun yang berkewajiban meengangkat atau membai’at khalifah adalah seluruh kaum muslimin. …hal yang sama berlaku pada tokoh-tokoh kaum muslimin, yang dalam bahasa Zallum disebut ahl al hall wa al ‘aqd

Tanggapan:
Redaksi “…yang dalam bahasa Zallum disebut ahl al hall wa al ‘aqd”. Menyiratkan seolah-olah istilah ahl al hall wa al ‘aqd adalah istilah baru yang dimunculkan oleh Syaikh Abdul Qadim Zallum. Padahal istilah ini bukanlah istilah yang baru. Imam al Mawardi dalam kitab al ahkam as sulthaniyah berulang kali menggunakan istilah  ini, diantaranya:

فَأَمَّا انْعِقَادُهَا بِاخْتِيَارِ أَهْلِ الْحَلِّ وَالْعَقْدِ 

Adapun sahnya (terwujudnya) Akad imamah adalah dengan pilihan (tanpa paksaan) dari ahlu al hall wa al ‘aqd[6].

Pada halaman 83. Penulis menyatakan:
“Hizb al-Tahrir memaknai wazir dalam hadist di atas sebagai pembantu dalam sengala urusan pemerintahan. Tampaknya pemaksaan tersebut sengaja diformulasikan agar memiliki legalitas eksistensi dan fungsi seorang wazir.”

Tanggapan:
memang benar pada masa Nabi mengangkat dua wazir (pembantu). Umar untuk urusan zakat dan Abu Bakar untuk urusan haji. Abu Bakar mengangkat Umar sebagai pembantu di bidang peradilan (qadha). Demikian juga Ali dan Utsman pada masa Umar. Kenyataan ini berlanjut hingga pada masa Abu Bakar ketika peran Umar sebagai mu‘âwin Abu Bakar sangat menonjol dalam wewenang yang bersifat umum dan perwakilan sampai pada tingkat di mana sebagian Sahabat pernah berkata kepada Abu Bakar, “Kami tidak tahu, apakah Umar yang menjadi khalifah ataukah engkau.” Meskipun demikian, Abu Bakar telah menugasi Umar untuk menangani masalah qadhâ’ (peradilan) dalam beberapa waktu tertentu, sebagaimana riwayat yang dikeluarkan oleh al-Baihaqi dengan sanad yang dikuatkan oleh al-Hafizh.

Atas dasar ini, faedah yang bisa diambil dari sirah Rasulullah saw. dan Khulafaur Rasyidin yang datang sesudah Beliau adalah bahwa Mu‘âwin diberi wewenang dan otoritas yang Mu’âwin at-Tafwîdh bersifat umum sebagai wakil. Akan tetapi, mu‘âwin boleh dikhususkan untuk posisi atau tugas tertentu. Hal itu seperti yang dilakukan Nabi saw. terhadap Abu Bakar dan Umar, juga seperti yang dilakukan Abu Bakar terhadap Umar.

Hal senada diungkapkan oleh Imam al Mawardi saat menjelaskan tentang wewenag wuzara tafwidl, beliau menyatakan:

وَالْوَزَارَةُ عَلَى ضَرْبَيْنِ : وَزَارَةُ تَفْوِيضٍ وَوَزَارَةُ تَنْفِيذٍ .
فَأَمَّا وَزَارَةُ التَّفْوِيضِ فَهُوَ أَنْ يَسْتَوْزِرَ الْإِمَامُ مَنْ يُفَوِّضُ إلَيْهِ تَدْبِيرَ الْأُمُورِ بِرَأْيِهِ وَإِمْضَاءَهَا عَلَى اجْتِهَادِهِ ، وَلَيْسَ يَمْتَنِعُ جَوَازُ هَذِهِ الْوَزَارَةِ ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حِكَايَةً عَنْ نَبِيِّهِ مُوسَى عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ : { وَاجْعَلْ لِي وَزِيرًا مِنْ أَهْلِي هَارُونَ أَخِي اُشْدُدْ بِهِ أَزْرِي وَأَشْرِكْهُ فِي أَمْرِي } . ( الأحكام السلطانية للماوردي ص. 36)

Pembantu khalifah itu ada 2, yaitu: wuzara tafwidl dan wuzara tanfidz. Adapun wuzara tafwidl ialah yang membantu khalifah untuk membantu tugas-tugas pemerintahan berdasarkan pendapatnya dan ijtihadnya. Pengangkatan wuzara semacam ini boleh (absah). Allah berfirman mengenai kisah Nabi Musa as. “Dan jadikanlah untuk seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudarku. Teguhkanlah dengan dia kekuatanku. Dan Jadikanlah dia sekutu dalam urusanku (QS. Thaha: 29-32)

Pada halaman 106 penulis menyatakan:

“Bagi HT, kewajiban menegakkan khilafah merupakan mahkota dari segala kewajiban yang dibebankan Allah kepada umat Islam. Menurut mantan Ketua Umum DPP HTI, menegakkan khilafah merupakan kewajiban paling agung dalam agama. Sementara pihak-pihak yang tidak berniat menegakkannya maka mereka berdosa, bahkan sebagai perbuatan maksiat yang paling besar”. Untuk mendukung pernyataannya penulis kemudian mengutip buku khilafah adalah solusi, terbitan Pustaka Thariqul Izzah,hlm. 28-29.

Tanggapan:

tentang wajibnya menegakkan khilafah, bahkan kewajiban yang paling agung, sesungguhnya pendapat ini bukan hanya pendapat HT. Ulama terdahulu telah lebih dahulu mengungkapkannya. Diantaranya adalah:

اعلم أيضًا أن الصحابة رضوان الله عليهم أجمعوا على أن نصب الإمام بعد انقراض زمن النبوة واجب ، بل جعلوه أهم الواجبات حيث اشتغلوا به عن دفن رسول الله 

“Ketahuilah juga bahwa para sahabat telah berijma’ bahwa mengangkat Imam setelah berakhirnya zaman kenabian adalah wajib, bahkan mereka menjadikannya kewajiban paling penting karena mereka menyibukkan diri dengannya dengan menunda penguburan Rasulullah.”[7]

Sedang dosa bagi orang yang tidak mau berjuang menegakkan khilafah juga telah diutarakan oleh Ibnu Hajar al-Atsqalani saat mengomentari hadist :

ومن مات وليس في عنقه بيعة فقد مات ميتة جاهلية 

Barang siapa meninggal sedang tidak ada bai’at (imam) di pundaknya maka dia mati dalam kondisi seperti mati jahiliyah (menanggung dosa) (HR.Muslim no. 1851)

Beliau menyatakan:

والمراد بالميتة الجاهلية وهي بكسر الميم حالة الموت كموت أهل الجاهلية على ضلال وليس له امامٌ مطاعٌ لأنهم كانوا لا يعرفون ذلك وليس المراد أنه يموت كافرا بل يموت عاصيا

“Yang dimaksud dengan kematian jahiliyah [dengan mim dibaca kasroh] adalah keadaan kematiannya seperti kematian masyarakat jahiliyyah di atas kesesatan dan tidak memiliki seorang pemimpin yang ditaati, karena mereka belum mengenal hal tersebut. Bukan dimaksudkan mati dalam keadaan kafir, melainkan mati dalam keadaan bermaksiat.” [Ibn Hajar, Fathu-l-baariy, 13/7]

Penulis mengakui bahwa konstruksi filosofis HT memiliki kesamaan dengan konsep para pemikir politik Muslim klasik dan abad pertengahan seperti  al Farabi, al-Mawardi, al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, dan Ibnu Khaldun (hlm. 117)

Tanggapan:
apa yang salah dari pemikiran (ijtihad) mereka? Jika HT memiliki kesamaan pandangan dengan ulama-ulama terdahulu karena memang berangkat dari landasan yang sama, yaitu dalil-dalil syariat. Jika penulis mengakui kesamaan pandangan HT dengan ulama klasik semisal Imam al Mawardi lantas mengapa penulis sedemikain sembrono mengambil kesimpulan bahwa ide khilafah tidak memiliki landasan normatif atau landasan normatifnya tidak relevan?. Lebih lancang lagi penulis menyatakan khilafah adalah proyek politik dengan tameng agama. Apakah penulis juga sedang menuduh semua ulama yang menyatakan wajibnya khilafah/imamah sedang mengada-ada dan memiliki motif politik dengan tameng agama?

Pada halaman 122, setelah mengekplorasi dalil wajibnya khilafah berdasarkan al quran dalam kitab ajhizah daulah khilafah fil hukmi wal idarah, penulis berkomentar bahwa penafsiran yang dibangun dalam kitab ini menggunakan model berpikir jumping to conclusion. Jumping atau loncat pada penafsiran kata hakim pada khalifah. Seakan ingin menguatkan pendapatnya penulis kemudian kesimpulan Qamaruddin Khan, seperti yang dikutip Khalid Ibrahim JIndan, bahwa Imam Ibnu Taimiyah meragukan validitas pendapat tentang ke-khilafah-an yang berasal dari al quran dan hadist, atau bahkan latar belakang sejarah khulafa rasyidin…”. (hlm. 123)

Tanggapan:
perhatikan bagaimana penulis mengutip sebuah pendapat. Pengutipan tingkat tiga seperti ini sangat memungkinkan terjadinya bias pemahaman atau bahkan kesalahan. apakah karya Imam Ibnu Taimiyah sedemikian sulit untuk didapatkan?. Sehingga harus mengutip kesimpulan Qamaruddin Khan dalam Khalid Ibrahim Jindan.

Lebih dari itu kesimpulan Khalid Ibrahim Jindan nampaknya terlalu gegabah. Ibnu Taimiyah telah menegaskan akan wajibnya imarah islamiyah bedasarkan al-hadist, diantaranya saat beliau mengambil kesimpulan tentang wajibnya imarah (kepemimpinan) beliau menyatakan

يجب أن يعرف أن ولاية الناس من أعظم واجبات الدين بل لا قيام للدين إلا بها، فإن بني آدم لا تتم مصلحتهم إلا بالاجتماع لحاجة بعضهم إلى بعض، ولا بد لهم عند الاجتماع من رأس، حتى قال النبي صلى الله عليه وسلم {إذا خرج ثلاثة في سفر فليؤمروا أحدهم} ، رواه أبو داود، وروى الإمام أحمد في المسند عن عبد الله بن عمرو، أن النبي قال: {لا يحل لثلاثة يكونون بفلاة من الأرض إلا أمروا عليهم أحدهم} فأوجب صلى الله عليه وسلم تأمير الواحد في الاجتماع القليل العارض في السفر، تنبيها على سائر أنواع الاجتماع، ولأن الله – تعالى – أوجب الأمر  بالمعروف والنهي عن المنكر ولا يتم ذلك إلا بقوة وإمارة[8]

Pada halaman 123-124 penulis mengutip pendapat Husayn Haikal yang menyatakan Al Quran dan al Hadist tidak mempunyai hubungan langsung dengan sistem pemerintahan. Lebih berani lagi pendapat Qamaruddin Khan yang menyatakan bahwa konsep Negara sama sekali tidak ada dalam al quran. Ditambah pendapat ‘Ali ‘Abd al-Raziq yang menyakan bahwa Islam tidak tidak memiliki konsep sistem  pemerintahan, semuanya diserahkan pada akal manusia menurut eksperimentasi umat terdahulu dan berdasarkan ilmu politik.

Tanggapan:
Penulis mengetahui persis bahwa pendapat yang dikutip tidaklah popular dan keluar dari mainstrim pemikiran Islam. Penulis pada catatan kaki mengetahui persis bahwa buku-buku yang dia jadikan rujukan telah mendapat kritik dari banyak ulama.[9] Tapi anehnya penulis tidak mempertimbangkan sama sekali padangan ulama yang mengkritik buku yang ia kutip, khususnya buku al islam wa ushul al hukm karya ‘Ali ‘Abd al-Raziq. Inikah sikap ilmiah seorang peneliti?. Semestinya penulis memaparkan pendapat mereka juga. Baru kemudian mengambil kesimpulan. Meski kesimpulan tidak penulis sampaikan pada halaman-halaman ini. Namun pemaksaan ide penggiringan opini ini jelas nampak pada bagian penutup, bahwa khilafah tidak memiliki landasan normatif baik al quran, as sunnah, dan ijma shahabat.

Saya tambahkan bahwa ‘Ali ‘Abd ar-Raziq karena buku yang ditulisnya[10] telah dikeluarkan dari Univ. al Azhar Kairo Mesir, semua gelar akademiknya dicabut. keputusan  ini  diputuskan oleh semua panitia yang terdiri dari 24 ulama Besar al Azhar pada hari Rabu, 15 Muharram 1344 H bertepatan Agustus 5 Agustus 1925. [11]

Mengenai hubungan Islam dan Negara. Prof. Dhiyau ad diin ar raiis mengutip pendapat beberapa ahli sejarah barat yang secara jujur mengatakan bahwa islam adalah agama yang memiliki konsep politik termasuk Negara [12]. Berikut saya kutipkan sebagiannya:

Prof. C. A. Nallino menyatakan: Sungguh Muhammad telah meletakkan dasar agama dan Negara secara bersamaan (Encyclopaedia of Social Sciences. Vol. VIII p. 333)

Dr. Schacht menyatakan: …sejumlah pendapat menyatakan bahwa Islam adalah sistem yang sempurna yang mencakup agama sekaligus Negara (The Encyclopaedia of Islam, IV, p. 350)

Prof. R. Strothmann:  Islam jelas ssebuah agama dan politik… (Development of Muslim Theology, Jurisprudence, and Constitutional Theory. (New York 1903) p. 67)

Prof. D. B. Macdonal: di  Madinah terbentuklah Negara Islam pertama, disana diletakkan prinsif-prinsif dasar bagi perundangan yang Islami. (The Caliphate. Oxford 1924, p. 30)

Sir. Thomas Arnold: Nabi saw. Pada waktu yang bersamaan adalah pemimpin agama sekaligus pemimpin Negara (Muhammedanism. 1924, p. 3)

Jika ilmuwan dan peneliti Barat dengan jujur mengakui bahwa Islam memiliki konsep politik kenegaraan, mengapa justru penulis justru memilih pendapat yang aneh dan nyeleneh ala ‘Ali ‘Abd al Raziq?

Yang aneh lagi adalah, kaum liberal sering mengkritik kalangan yang mereka istilahkan sebagai kelompok fundamentalis sebagai penganut mazdhab literalis-tektualis. Tetapi saat mereka menafsirkan ayat-ayat al quran tentang wajibnya imamah mereka lebih-lebih sangat literalis-tekstual. Memang benar tidak ada ayat yang secara tekstual menyebutkan “aqimuu al khilafah” atau ayat “kutiba ‘alaikum al khilafah” akan tetapi banyak ayat yang memerintahkan untuk menerapkan hukum-hukum hudud, jihad, dsb. Hukum-hukum ini tidak akan terlaksana tanpa institusi pelaksananya. Hadist-nabi kemudian menjelaskan bahwa nama sistem pelaksana (sistem pemerintahan) yang digariskan Islam adalah khilafah. Jadi clear, bahwa al quran mewajibkan adanya sistem pemerintahan yang menerapkan hukum-hukum Allah kemudian hadist menjelaskan bahwa sistem itu adalah khilafah.

Pandangan literalis-teklualis dan cenderung parsial dalam memahami nash juga Nampak pada saat penulis mengomentari dalil wajibnya khilafah berdasarkan hadist Nabi saw (hlm 126). Jelas untuk mengambil kesimpulan tidak cukup hanya mendasarkan pada satu hadist. Pada saat HT menjelaskan tentang wajibnya membai’at imam berdasarkan hadist:

ومن مات وليس في عنقه بيعة فقد مات ميتة جاهلية 

Barang siapa meninggal sedang tidak ada bai’at (imam) di pundaknya maka dia mati dalam kondisi seperti mati jahiliyah (menanggung dosa) (HR. Muslim no. 1851)

Lalu HT mengambil kesimpulan bahwa imam yang dimaksud adalah khalifah, karena Nabi juga menjelaskan bahwa imam yang dimaksud adalah khalifah.  Diantara dalilnya adalah:

إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَتَيْنِ فَاقْتُلُوا الآخَرَ مِنْهُمَ

Jika dibait dua orang khalifah maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya (HR. Muslim dari Abu Sa’id al Khudri).

Ibnu Hajar saat mengomentari hadist ini (HR. Muslim no. 1851) juga menegaskan bahwa yang dimaksud dalam hadist ini adalah bai’at terhadap imam/khalifah sebagaimana yang saya kutip di atas.

Selanjutnya mengenai bai’at kepada khalifah. Penulis sependapat dengan pendapat Murtadha al ‘Askari yang menyatakan bahwa bai’at ada beberapa bentuk dan tidak hanya terbatas pada bai’at pengangkatan khalifah (hlm 127).

Tanggapan:
nampaknya penulis menyelisihi pendapat ahlu sunnah dalam hal hukum bai’at. Mengapa? karena para fuqaha ahlu sunnah telah berijma bahwa bai’at adalah akad antara umat dengan khalifah (hakim). Syaikh Dr. Ahmad Fuad ‘Abdul Jawad dengan mengutip pendapat Ibnu Khaldun menyatakan:

و من هنا جاء إجماع فقهاء أهل السنة علئ أن البيعة عقد بين الأمه و بين الخليفة (الحاكم), و سمي عقد الخلافة (الحكم)
Dari sini terdapat ijma fuqaha ahlu sunnah bahwa bai’at adalah akad antara ummat dengan khalifah (al haakim) dan dinamakan akad khilafah (alhukm)[13]

Bai’at terhadap nabi jelas untuk pegangkatan beliau sebagai kepala negara bukan sebagai Nabi.  Buktinya Nabi tidak melalukan bai’at pada masa-masa awal Islam kepada shahabat yang masuk Islam. Jika ada yang berhujjah saat itu syariat  bai’at belum diturunkan. Jika asumsi ini benar. Mengapa tidak dilakukan bai’at terhadap sahabat yang telah beriman lebih awal?. Pendapat yang benar adalah keimanan terhadap risalah yang beliau bawa dan atas kenabian beliau cukup dengan dengan syahadatain, sebagaimana dijelaskan dalam banyak riwayat.

Adapun adanya bai’at aqabah I dan II yang penulis nyatakan bukan bai’at untuk pengangkatan Nabi sebagai kapala negara dengan alasan Rasul belum hijrah dan negara Islam belum berdiri (hlm. 127).

Tanggapan: justru karena negara islam belum berdiri itulah ahlu nushrah (suku Aus dan Khazraj) membai’at Nabi saw sebagai pemimpin mereka. Atas jaminan mereka pada bai’at aqabah II itulah maka Rasul hijrah ke Madinah. Penulis sendiri mengakui dengan mengutip pendapat Murtadha al ‘Askari bahwa peristiwa ini (bai’at Aqabah II) adalah wujud bai’at untuk menegakkan Daulah islamiyyah (hlm 127-128). Jadi, bagaimana bias seorang peneliti mengambil kesimpulan yang berbeda dengan referensi yang dikutipnya?

Adapun bai’at aqabah I sejatinya adalah bai’at persiapan menuju bai’at Aqabah II.  Mengapa? karena 12 orang yang berbai’at pada bai’at ini[14] adalah yang juga berbai’at pada bai’at Aqabah II. Dengan kata lain bai’at Aqabah I disempurnakan dengan bai’at Aqabah II, karena belum ada jaminan keamanan untuk melindungi Nabi sebagai kepala Negara. Dalam bai’at II ini juga jelas bahwa Nabi akan hijrah ke Madinah setelah ada jaminan dari ahlu nushroh (suku Aus dan Khazraj).

Selanjutnya penulis mempersoakan ijma sahabat dalam peristiwa Saqifah Bani Sa’idah. [15] Perbedaan pendapat di kalangan sahabat mengenai siapa penganti Nabi dieksplorasi sedemikian rupa oleh penulis untuk membantah bahwa shahabat telah berijma (hlm. 131-135).

Tanggapan: kekeliruan penulis nampak fatal disini. HT mentabanni bahwa sahabat telah berijma tentang wajibnya mengangkat pengganti Nabi dalam perkara kepemimpinan politik. Sebagaimana yang diungkapkan Imam Ibnu Hajar al Haitsami:

اعلم أيضًا أن الصحابة رضوان الله عليهم أجمعوا على أن نصب الإمام بعد انقراض زمن النبوة واجب ، بل جعلوه أهم الواجبات حيث اشتغلوا به عن دفن رسول الله

“Ketahuilah juga bahwa para sahabat telah berijma’ bahwa mengangkat Imam setelah berakhirnya zaman kenabian adalah wajib, bahkan mereka menjadikannya kewajiban paling penting karena mereka menyibukkan diri dengannya dengan menunda penguburan Rasulullah.” [16]

Perbedaan  pendapat  yang terjadi diantara shahabat adalah  siapa yang akan menjadi imamnya. Imam/khalifah yang akan menggantikan Rasulullah. Karena dalam pandangan sunni tidak ada dalil yang menjelaskan penetapan orang tertentu sebagai khalifah. [17] Pada saat mengomentari hadist desakan sebagian shahabat kepada Umar agar menunjuk penggantinya, Umar lalu menolaknya, Imam an Nawawi menyatakan:

وَفِي هَذَا الْحَدِيث : دَلِيل أَنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَنُصّ عَلَى خَلِيفَة ، وَهُوَ إِجْمَاع أَهْل السُّنَّة وَغَيْرهَا

Pada hadist ini terdapat petunjuk bahwa Nabi saw tidak menetapkan khalifah (personnya). Ini adalah kesepakatan ahlu sunnah dan yang lainnya.[18]

Pendapat ini juga merupakan pendapat HT. Syaikh Taqiyuddin dalam bab yang paling panjang dalam kitab asy syakhshiyyah Islamiyyah juz II menuliskan judul:

لم يعين الشرع شخصاً معيناً للخلافة 

Syariat tidak menetapkan person tertentu bagi khilafah[19]

Tentang terjadinya perpecahan di kalangan shahabat menjadi tiga faksi yaitu faksi Ansharpimpinan Sa’ad bin ‘Ubadah, Faksi pimpinan Abu Bakar dan Umar, dan faksi pimpinan ‘Ali bin Abi Thalib (hlm. 133).

Tanggapan: kalangan Anshar dalam peristiwa Saqifah setelah mendapat penjelasan dari Umar akhirnya menbai’at Abu Bakar hanya Sa’ad bin ‘Ubadah yang tidak mau membai’atnya.[20]

Imam as Sututhi mengutip riwayat Imam an Nasaai, Abu Ya’la dan al Hakim –ia menyataka keshahihahnnya- meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dia berkata: 

قبض رسول الله صلى الله عليه وسلم قالت الأنصار منا أمير ومنكم أمير فأتاهم عمر بن الخطاب رضي الله عنه فقال يا معشر الأنصار ألستم تعلمون أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قد أمر أبا بكر أن يؤم الناس فأيكم تطيب نفسه أن يتقدم أبا بكر فقالت الأنصار نعوذ بالله أن نتقدم أبا بكر.

”Tatkala Rasulullah telah dipanggil Allah ke hadirat-NYa, orang-orang Anshar berkata: ‘Dari kami ada seorang pemimpin dan dari kalian ada seorang pemimpin. Kemudian Umar mendatangi mereka dan berkata,’Wahai kaum Anshar tidakkah kalian tahu bahwa Rasulullah telah memerintahkan Abu Bakar menjadi Imam shalat pada saat hidupnya. Lalu siapa di antara kalian yang merasa dirinya berhak untuk maju mendahului Abu Bakar?’ Orang-orang Anshar berkata,’kami merlindung kepada Allah untuk maju mendahului Abu Bakar’[21]

Mengenai Ali yang tidak terlibat dalam perdebatan di Saqifah.  Bukan berarti Ali berada pada faksi yang berbeda. Justru Ali marah karena tidak dilibatkan dalam perdebatan tersebut. Ali juga menegaskan seandainya ia dilibatkan tentu ia akan membai’at Abu Bakar. Ali dan Zubair berkata,” Dan kemarahan kami tidak lain karena kami tidak dilibatkan dalam musyawarah. Sesungguhnya kami memandang bahwa Abu Bakar adalah orang yang paling berhak untuk memangku jabatan khalifah. Karena sesungguhnya ia adalah teman Rasulullah di dalam gua dan kami mengetahui kemualiaannya. Rasulullah telah memerintahkannya menjadi Imam shalat  saat beliau masih hidup[22]

Selanjutnya penulis mempersoalkan gelar khalifatu rasulillah bagi Abu Bakar. Menurutnya gelar tersebut tidak ada hubungannya dengan persoalan politik atau kepemimpinan. Tetapi hanya terkait tentang keutamnaan Abu Bakar sebagai khalifah Rasul ‘ala shalat (hlm. 137)

Tanggapan:
Istilah khalifah rasulillah juga dipakai dalam kontek kepemimpinan. Setelah terbai’atnya Abu Bakar, dia kemudian naik ke atas mimbar untuk berkhutbah, namun ia tidak melihat Zubair. Maka beliau memerintahkan untuk memanggilnya. Setelah Zubair datang Abu Bakar berkata: ”Engkau adalah anak bibi Rasulullah dan seorang  hawari Rasulullah apakah engkau ingin mengoyak-ngoyak kesatuan kaum muslimin?”. Zubair menjawab:

لا تثريب يا خليفة رسول الله فقام فبايعه

Tidak wahai khalifah rasulillah, ia lalu berdiri dan membai’at Abu Bakar

Saat Abu Bakar tidak melihat Ali maka ia mengutus orang untuk memanggilnya dan menanyakan hal sama seperti pada Zubair. Ali lalu menjawab:

لا تثريب يا خليفة رسول الله فبايعه.

Tidak wahai khalifah rasulillah, ia lalu berdiri dan membai’at Abu Bakar[23]

Kesimpulan

KEWAJIBAN MENEGAKKAN KHILAFAH MEMILIKI LANDASAN NORMATIF BAIK AL QUR’AN, AS SUNNAH, DAN IJMA’ SHAHABAT

Bersambung ke bagian kedua [al-khilafah.org]

Banjarmasin, 26 Jumadil Akhir 1433 H
Al Faqir ila ALLAH Wahyudi Abu Syamil Ramadhan

===========================
[1] http://hizbut-tahrir.or.id/2009/07/29/hizbut-tahrir-wahabi/

[2] Dikutip penulis dari kitab afkaru siyasiyah hlm. 132

[3] Dikutip penulis dari kitab Mitsaq al-Ummah, pembahasan serupa bisa didapatkan dalam kitab asy syakhshiyyah al islamiyyah juz II

[4] Hizbut Tahrir, Ajhizah daulah khilafah (fi al hukmi wa al idarah), hlm. 7

[5]Tafsir Ibnu Katsir,  2/416

[6] al ahkam as sulthaniyah, hlm. 6

[7] Imam Ibn Hajar Haitami, Ash Shawaiqul Muhriqah, h. 7

[8] As-Siyasah asy-Syar’iyyah hlm. 33

[9] Diantara yang mengkritik buku ini adalah naqdhu ‘ilmiy li kitab al islam wa ushul al-hukmi karya al ‘allamah asy syaikh Muhammad ath thahir ibn ‘aasyur dan kitab an nazhriyyat as siyasiyah al islamiyah karya syaikh dhiyau ad diin ar raiis beliau adalah Profesor dan ketua Jurusan Sejarah Islam di Fakultas Darul ‘Uluum Univ. Kairo

[10] Buku yang berjudul al Islam wa ushul al hukmi. Buku ini pertama kali terbit pada bulan April 1925. Saya sebut buku ini tidak popular dan keluar dari mainstrim pemikiran Islam karena pada tahun yang sama umat sedunia akan berkumpul di Kairo Mesir untuk mengembalikan Khilafah yang baru saja diruntuhkan oleh Penjajah khususnya Inggris melalui anteknya Mustafa Kamal. Di tengah suasana gegap gempita untuk mengembalikan khilafah itulah justru ‘Ali ‘Abdur al-Raziq menerbitkan buku itu.

[11] Lihat raddu haiah kibar al ulama ‘ala kitab al islam wa ushul al hukmihlm. 7

[12] an nazhriyyat as siyasiyah al islamiyah hlm. 29

[13] Al Bai’at ‘inda mufakkiri ahli sunnah wal ’aqdu al ijtima’I  fil fikri as siyasiy al hadiist hlm. 17

[14] Bai’at Aqabah I disebut juga bai’at an nisa karena belum disyariatkannya perang

[15] Tsaqifah adalah tempat diputuskan persoalan-persoalan penting  bagi penduduk Madinah, persis seperti daar an Nadwah di Makkah

[16] Imam Ibn Hajar Haitami, Ash Shawaiqul Muhriqah, h. 7

[17] Bebeda dengan pandangan Syiah yang menyatakan bahwa Syariat telah menetapkan orang tertentu sebagai khalifah

[18] An-Nawawi, Syarhu al Muslim , 6/291

[19] Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah juz II hlm. 54

[20] An Nazdriayat as Siyasah al Islamiyah hlm. 42

[21] Tarikh Khulafa’, hlm. 26 (maktabah syamilah)

[22] Ibid, hlm. 27

[23] Ibid , hlm 26

 

http://www.al-khilafah.org/2012/05/beberapa-catatan-buku-membongkar-proyek.html

Benarkah Islam disebarkan dengan Perang? ( Manipulasi Sejarah Pembantaian Muslim Terhadap Non-Muslim )

Dua hari lalu saya terima email yang menyatakan seperti ini :

Aslm bang Zay,

Buku Anda The Khilafa menyatakan Islam tidak pernah ditegakkan dengan pedang. Apakah Anda tidak mendalami sejarah? Anda ini paling pintar membual. Coba lihat di bawah ini dan tolong data-data ini juga dimasukkan dalam buku Anda supaya seimbang. Jangan terlalu ngawur membela ideologi Anda. Terima kasih.

BAGAIMANA ISLAM DISEBARLUASKAN (PERANG) JAUH JAUH SEBELUM PERANG SALIB, MUSLIM MEROMPAK DAERAH DI LUAR MEKAH DAN MADINAH,

Tahun 635, Tentara Islam mengepung dan menaklukkan Damaskus, salah satu kota besar di Syria, dari bangsa pribumi Asyrian. Puluhan ribu bangsa Asyrian tewas.

Tahun 637, Tentara Arab Islam menaklukkan bangsa pribumi Chaldean dan Phoenician Kristen di Irak pada Perang al-Qadisiyyah. Ratusan ribu nyawa bangsa Chaldean melayang, Chaldean kehilangan identitas, menjadi bagian dari propinsi Arab.

Tahun 638, Tentara Arab Islam menaklukkan dan mencaplok Yerusalem, mengambil alih dari bangsa Israel dan Kerajaan Bizantium. Korban jiwa rakyat Yahudi mencapai puluhan jutaan orang, sebagian kecil melarikan diri ke Eropa.

Tahun, 638-650 Tentara Islam menaklukkan Kerajaan Zoroaster Persia (Iran) dan menjadikannya negara Islam, kecuali di sepanjang Laut Kaspia. Jutaan jiwa tewas. Pembakaran Perpustakaan Besar Ilmu Pengetahuan Persia. Kemunduran peradaban di negeri Persia.

641 Tentara Arab Islam menaklukkan bangsa pribumi Asyria Kristen di Suriah dan Lebanon. Jutaan bangsa Asyrian tewas. Bangsa Asyrian kehilangan identitas sebagai bangsa Asyrian. Bahasa Arab menggantikan bahasa resmi Asyrian yaitu bahasa Aram. Sebagian bangsa Asyrian yang selamat membuat perjanjian damai dengan Muslim Arab, mereka secara rutin membayar jiyzah (upeti) kepada Muslim Arab. Sampai sekarang Kristen Koptik Asyrian yang ramah masih tetap ada di Suriah. Tingkat ekonomi mereka di era modern ini jauh lebih baik dari counterpart mereka yang beragama Muslim.

643-707 Tentara Arab Islam menaklukkan Kristen Afrika Utara dan Yordania. Sama seperti Kristen di Suriah, pada era modern ini, ekonomi dan tingkat pendidikan bangsa Yordania yang tetap memeluk Kristen jauh lebih baik dari saudaranya kaum Muslim.

710-713 Tentara Islam menaklukkan Lembah rendah Indus “Hindu Kush” dari bangsa Hindi. Jutaan jiwa bangsa Hindi yang memeluk Hindu tewas. Sebagian di Islam kan, daerah yang menganut Islam, sekarang namanya Pakistan.

Referensi: ”The name Hindu Kush means literally ‘Kills the Hindu’, a reminder of the days when (Hindu) slaves from the Indian subcontinent died in the harsh weather typical of the Afghan mountains while being transported by Muslim traders to the Muslim courts of Central Asia.” (Terjemahan: Hindu Kush dalam bahasa Urdu artinya “Bunuh orang Hindu”, sebagai pengingat ketika budak Hindu dari subbenua India tewas dalam cuaca yang sangat buruk ketika diangkut oleh pedagang Muslim ke koloni Muslim di Asia tengah). Dan masih banyak lagi kisah pembantaian umat Islam terhadap non-islam lainnya.Terima kasih atas tanggapannya bang Zay.

=========================================================================

Wah kopasan yang begitu panjang dan membuat saya terharu.

Sebenarnya saya ingin kroscek data-data ini di om gugel tapi kalau ada yang seperti ini saya mahfum belaka bahwa sepertinya ini hasil risetnya universitas JIL, FFI dan teman-teman seperjuangannya. Saya agak khawatir informasi spt ini seringkali beredar luas di internet dan mereka yang doyan kopas dengan bangganya memperlihatkan seolah-olah mereka profesor sejarah yang paling tahu soal sejarah Islam. Namun yang lebih menyedihkan lagi bila yang membaca kopasan tersebut tidak melakukan apa-apa. Karena itu dengan kemampuan abal-abal saya dalam sejarah Islam, saya mencoba setidaknya menjelaskan apa yang saya pelajari dan saya pahami tentang penaklukan-penaklukan Islam di zaman Khulafaur Rasyidin.

Mengenai pernyataan di buku saya, The Khilafa bahwa umat Islam tidak pernah melakukan penaklukan dengan pedang juga dipahami sepotong-sepotong. Untuk diketahui bahwa perang di mana pun dan dalam kondisi apa pun strateginya selalu sama, infiltrasi militer. Penaklukan tanpa pedang yang saya maksud adalah tidak pernah ada paksaan dalam Islam kepada pemeluk agama lain untuk memeluk agama tersebut. Coba lihat sejarah, di negeri di mana Islam berkuasa umat non muslim diperlakukan secara adil, dilindungi dan diberi pilihan untuk memilih Islam atau membayar jizyah. Nah, sekarang coba bandingkan dengan reconquista Spanyol ketika umat Islam diusir dari sana dan dipaksa memeluk agama Kristen. Tidak ada pilihan utk membayar upeti atau pajak, melainkan pindah ke agama Kristen atau mati.

Berikut beberapa jawaban dari kopasan2 tersebut, Baca lebih lanjut

Hubungan Perjuangan Melawan Penjajah Belanda di Indonesia dengan Khilafah Islam

Sudah menjadi rahasia umum di kalangan orang/pejabat Belanda bahwa banyak sultan-sultan di Indonesia memberikan baiatnya (sumpah kesetiaan dan kepatuhan) kepada Khalifah di Istanbul. Dengan itu secara efektif kaum Muslim di wilayah Sultan itu menjadi warga negara Khilafah [Negara Islam].

Kaum Muslim di Aceh adalah yang paling menyadari akan status mereka. Koran Sumatera Post menulis tentang ini pada tahun 1922: “Sesungguhnya kaum Muslim Aceh mengakui Khalifah di Istanbul.”

Bukan hanya itu, mereka juga mengakui fakta bahwa tanah mereka adalah bagian dari Negara Islam. Ini adalah salah satu alasan atas perlawanan sengit mereka melawan Belanda. Sebagaimana yang diakui Koran Sumatra Post tahun 1922: “Pada hari ini, Baca lebih lanjut

NU, NKRI dan Khilafah

KH Mutawakkil ‘Alallah — kebetulan nama beliau sama dengan salah satu gelar seorang Khalifah Bani Abasiyah — Ketua PW NU Jatim menegaskan, bahwa siapapun dan apapun ormasnya yang mengganggu asas Pancasila dan keutuhan NKRI, maka akan berhadapan dengan NU.

Pernyataan keras ini disampaikan sebagaimana dinukil eramuslim dari situs on-line NU oleh Kyai tersebut pada acara Harlah NU di Jombang. Ia juga dengan tegas meminta Negara bertindak tegas kepada pengusung ide Khilafah. Peryataan ini tentu mengandung ironi di tengah gagasan penegakan Khilafah yang semakin kuat mendapatkan sambutan hangat dari seluruh komponen ummat – tentu termasuk ummat Nahdliyin. Baca lebih lanjut

Islam, Sekulerisme dan Indonesia

Ali Mustofa* – detikNews

Jakarta – Islam adalah agama yang sempurna (kaffah), mengatur seluruh aspek kehidupan. Mulai dari yang dipandang kecil seperti memakai sandal mulai dari kaki kanan terlebih dahulu hingga mengatur urusan politik dan pemerintahan.

Islam mengatur segenap perbuatan manusia dalam hubunganya dengan Khaliq-nya, hal ini tercermin dalam aqidah dan ibadah ritual dan spiritual. Seperti: tauhid, salat, zakat, puasa dan lain-lain. Kedua, mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Yang diwujudkan berupa Baca lebih lanjut

Muslim dan Non Muslim Butuh Khilafah , Dunia Butuh Khilafah..!!

Dunia adalah tempat di mana umat manusia,muslim dan non muslim,hidup.Dalam hidup,islam mengenal istilah khilafah.Khilafah adalah bentuk pemerintahan atau negara dalam islam (khalifah adalah kepala negaranya) yang di contohkan oleh rasulullah sebagai amirul mu’minin pertama,khulafa’ur rasyidin dan para khalifah sesudahnya hingga keruntuhannya pada tanggal 3 maret 1924 di turki. Sejak saat itu,umat manusia,terutama umat islam,bagaikan anak yang kehilangan ibunya. Dunia pun merasakan hal yang sama. Karena khilafah adalah kepemimpinan umum bagi umat manusia,yang menerapkan seluruh hukum Allah yang tercantum dalam al Qur’an dan as sunnah di segala aspek kehidupan. Dalam sejarah peradaban dunia,khilafah amat di butuhkan oleh umat manusia,bahkan pernah memimpin selama 13 abad (1300 tahun : 622-1924)

MUSLIM BUTUH KHILAFAH

Umat muslim butuh khilafah karena dengan khilafah, mereka akan mendapatkan kemuliaan Baca lebih lanjut

Menjadi Muslim Dzimi

Muslim dzimiBarangkali mungkin akan ada yang menunjuk hidung ke arah saya, membid’ah-bid’ahkan saya, terkait judul di atas yang terkesan kontroversial. Biar saja. Saya memang suka dengan yang ’ribut-ribut’, saya membenci ’kedamaian’ jika ia hanya sekadar aforisma dari kungkungan ’zona nyaman’. Sebagai penyesatan opini, dan jebakan intelektual.

Istilah Muslim Dzimmi memang tidak pernah ada dalam konsep Islam. Ini hanya inisiatif saya pribadi ketika melihat realitas kehidupan saat ini yang ’pating pecotot’ tidak jelas jeluntrungnya. Di sisi lain, tidak jarang dari kalangan yang mengatasnamakan dirinya intelektual muslim tanpa segan-segan melakukan akrobat intelektual: Mengkaburkan yang haq, dan mentolerir yang bathil.

Dahulu saya berbangga hati jika Negeri tempat tinggal dan kelahiran saya, dikatakan sebagai komunitas Muslim terbesar di dunia. Rasa-rasanya ”wah” dan tak tertandingi. Namun maaf, kali ini mungkin saya harus merevisi anggapan itu, setidak-tidaknya untuk diri saya sendiri. Sekali lagi Baca lebih lanjut

Perlukah Negara Islam Indonesia? ( Komentar2 di eramuslim.com )

Silang pendapat tentang perlu tidaknya negara Islam Indonesia mencuat. Beberapa tokoh Islam seperti Habib Rizieq dan KH Hasyim Muzadi menegaskan, tidak perlu adanya negara Islam Indonesia.
Berikut diskusi/komentar2 yang saya copas dari eramuslim.com


nobody — Senin, 16/05/2011 10:23 WIB

Jika ditanyakan wajib tidaknya negara Islam Indonesia, maka jawabannya “Itu tergantung”.

Tergantung apakah dengan kondisi yang sekarang umat Islam dapat benar-benar memurnikan tauhid & menerapkan sistem Islam secara kaffah (termasuk dakwah, jihad, dsb).

Tergantung apakah dengan kondisi yang sekarang umat Islam dapat menyelamatkan keluarganya di seluruh dunia secara lahir bathin dari bahaya pembodohan, pemurtadan, pelecehan, penyiksaan, perkosaan, penjajahan, pembantaian, dsb.

Tergantung apakah dengan kondisi yang sekarang umat Islam dapat bersatu menghadapi serangan yang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam, baik secara fisik maupun fikir (misal proyek New World Order, dsb).

Kalau menurut saya, untuk dapat keluar dari permasalahan yang disebabkan karena penerapan sistem sekular jahiliyah sekarang ini, sebagaimana yang telah dihadapi oleh Rasulullah SAW saat fase Mekah dulu, maka mendirikan Negara berdasarkan Islam sebagaimana Rasulullah mendirikan negara Madinah (Madaniyah) menjadi wajib hukumnya.

Terserah masyarakat jahiliyah Arab dulu melakukan apa sebagaimana ketua ormas & parpol di Indonesia bilang apa (bisa saja mereka di bawah teror atau sogok), toh Rasulullah SAW tetap bertekad bulat untuk mendirikan Khilafah. Baca lebih lanjut

Khilafah Mampu Selamatkan NKRI

Muhammad Ismail Yusanto: Khilafah Mampu Selamatkan NKRI

Ismail Yusanto

Sejak kehancuran payung Dunia Islam sekitar 86 tahun yang lalu, saat kekhilafahan Turki Utsmaniyah dihapuskan, kaum Muslimin seperti kehilangan arah. Sejak itulah berbagai persoalan berupa penjajahan dan penindasan menimpa umat Islam hingga kini. Disadari atau tidak, umat Islam memerlukan kembali kepemimpinan yang dapat menyatukan kaum Muslimin sedunia dengan penegakan syariah secara kaffah.

Apakah ide khilafah sebagaimana yang tegak berdiri pada masa lalu bisa berdiri kokoh dan dapat diterima oleh seluruh umat Islam, terutama di Indonesia? Berikut wawancara Eramuslim dengan Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia, Muhammad Ismail Yusanto, di Jakarta.

Sebenarnya maksud dari khilafah itu apa, mungkin sebagian orang Islam belum mengerti? Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: