NII KW IX itu Buatan Intelejen..??


Jakarta – Isu Komandemen Wilayah (KW) 9 Negara Islam Indonesia (NII) kembali meruyak pasca linglungnya Liana Febriani alias Lian.

Mustofa B Nahrawardaya, Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF), mensinyalir, aparat sengaja memelihara isu NII untuk digunakan sebagai wahana penutup terhadap kasus lain yang menjadi sorotan masyarakat.

“Jika anda familiar dengan istilah NII (Negara Islam Indonesia), wajar saja. Karena pemerintah melalui berbagai cara sukses melakukan propaganda bahaya laten NII,” pendapatnya dalam keterangan tertulis kepada detikcom, Kamis (14/4/2011).

Menurutnya, tidak seperti isu PKI yang kini sudah mulai berlalu, isu NII tampaknya akan terus digelindingkan dengan bermacam latar belakang tujuan.

Bagaimana Mustofa bisa menyimpulkan demikian? Ada baiknya kita baca pokok pikiran pengurus Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah yang juga staf Ahli DPR RI ini:

1. Semenjak pergantian imam dari Kartosoewirjo kepada para penggantinya sebelum terbentuk Komandemen Wilayah IX (atau lebih dikenal NII KW9), NII sudah tidak lagi murni gerakan NII. Gerakan pembentukan negara di bawah bendera agama Islam itu, sudah disusupi (diinfiltrasi) oleh intelijen. Alhasil, NII bentukan intelijen ini sungguh jauh benar karakternya dengan NII yang semua dirintis Kartosoewirjo, Daud Beureuh, Hingga kepemimpinan NII era saudara Seno/Basyra yang tertangkap aparat sebelum awal tahun 80-an.

2. Dengan sentuhan intelijen, gerakan NII tidak lagi bisa bergerak sesuai tujuan NII semula, karena gerakan NII bentukan intelijen disetting sedemikian rupa sehingga mengubah karakter NII yang berpedoman Al Qur’an dan Hadits menjadi NII modifikasi dengan tujuan merusak citra NII. Banyak simpatisan NII yang kemudian tidak lagi ingin meneruskan menjadi kader NII karena mengira organisasinya sudah keluar dari tujuan.

3. NII bentukan intelijen saat itu, sengaja dipelihara untuk menghabisi NII yang murni. Pembantaian terhadap citra NII, sarat dengan kepentingan politis. Dengan adanya NII bentukan intelijen, sangat mudah mengadu domba masyarakat dengan aktifis NII. Masyarakat pun dibuat jengkel dan marah terhadap NII, karena intelijen terus menerus mengkampanyekan karakter NII yang suka mencuri, membaiat dengan cara khusus, mengkafirkan orang, pengumpulan dana secara massal terselubung, atau perekrutan menggunakan model indoktrinasi. Padahal NII rintisan Kartosoewirjo tidak mengajarkan seperti itu.

4. Upaya propaganda hitam intelijen terhadap NII tidak berhenti hingga kini. Korban-korban rekrutan NII sengaja diciptakan agar mengesankan masih eksisnya NII. Padahal, kepolisian sudah menerima banyak laporan korban rekrutan NII, namun terbukti sampai sekarang polisi juga belum bisa menemukan dan menangkap gembong NII. Patut diduga, aparat sengaja memelihara isu NII untuk digunakan sebagai wahana penutup terhadap kasus lain yang menjadi sorotan masyarakat. Apabila memang serius menghentikan praktek makar NII, pemerintah pasti sudah melibasnya. Termasuk Kapolda Metro Jaya, apabila memang sudah lama mengendus keberadaan NII, segera saja tangkap dan adili dengan fair. Pembiaran ngambangnya isu NII sama persis dengan pembiaran isu terorisme yang bertujuan untuk menyambut propaganda anti radikalisme agama oleh Amerika.

5. Kesimpulannya, NII yang ada saat ini tidak lain tidak bukan adalah “NII KW1” (baca: NII Kwalitas Nomor 1) alias NII kloningan yang pola indoktrinasi, perekrutan, struktur, kepemimpinan, dan pola publikasinya, dilakukan sangat mirip dengan aslinya. Masyarakat awam yang menjadi korban perekrutan akan mengira ini adalah ulah NII. Padahal bukan.

“Tidak hanya ada merek tas lokal dengan sebutan produk KW1, namun kini pun ada NII KW1 yang sulit membedakan dengan NII aslinya. Maka dari itu, seandainya ada anggota keluarga yang konon menjadi korban perekrutan NII dengan ciri-ciri linglung, atau bicaranya ngelantur soal pria berjenggot, soal pengajian, soal ustadz, soal jamaah, soal NII,….eits, jangan langsung menuduh itu kerjaan NII. Kasihan NII aslinya. Sudah tidak ada, masih juga difitnah. Kasihan kan?” tutupnya
http://www.detiknews.com/read/2011/04/14/164023/1617694/10/organisasi-nii-sudah-wassalam-nii-kw1-sengaja-dibuat-intelijen/

Waspada! NII KW IX Masih Mencari Mangsa Untuk Diperas

Jakarta (voa-islam.com) – Beriman, berhijrah dan berjihad adalah tahap-tahap perekrutan di NII. Jihad di kelompok ini berarti harus siap mencari orang dan uang. Demikian doktrin cuci otak bagi para korban NII (Negara Islam Indonesia) yang sejatinya sangat tidak islami dan terus menerus mejadi musuh dalam selimut yang tak pernah tuntas.

Anehnya Pemerintah seakan tak bergeming menyelesaikannya, sudah berapa kali Indonesia berganti pemimpin, namun NII juga sekte sesat seperti JIL (Jaringan (Non) Islam Liberal), LDII, Ahmadiyah dan lainnya tak pernah tuntas diberantas. Apalagi harus menunggu kerja Densus 88, rasanya mereka hanya mengejar target pesanan AS, Australia, maupun kaki tangan Yahudi Lainnya. Tak salah sering disentil sebagai pengawal kepentingan penguasa dan ada yang berseloroh Densus 88 menjadi agen tukang bikin pengalihan isu.

Kasus terbaru adalah terungkapnya kasus Laila Febriani alias Lian, pegawai honorer Departemen Perhubungan, yang terdampar dua hari di Masjid At Ta’awun dikawasan Puncak Pas, Bogor. Ketika ditemukan, Lian sudah terdoktrin dan hilang ingatan, bahkan ia sudah merubah gaya berpakaiannya menjadi Jilbab Lebar dan bercadar yang sesungguhnya jauh dari gaya busananya sehari-hari. Dibalik kasus ini terkesan untuk memojokkan citra berbusana pakaian muslimah dengan kain jilbab yang lebar dan bercadar. Tak hanya itu, Lian menyebut banyak pria berjenggot tebal diantara mereka. Haha, lagi-lagi ada character assasination lagi yang memojokkan Islam. Baca Selengkapnya disini.

“Kalau seseorang sudah dibaiat menjadi anggota NII mereka harus berjihad untuk NII. Jihad yang dimaksud ya cari uang dan cari orang.”

Umat Islam kini hanya bisa berharap pada aksi massa dan bantuan dari Tim Rehabilitasi NII Crisis Center. Ketua Tim Rehabilitasi NII Crisis Center Sukanto menandaskan “Kalau seseorang sudah dibaiat menjadi anggota NII mereka harus berjihad untuk NII. Jihad yang dimaksud ya cari uang dan cari orang.” Penjelasan Sukanto bisa Anda baca disini.

NII Crisis Center adalah tempat untuk mencari informasi dan rehabilitasi oleh orang-orang yang pernah dicuci otak oleh jaringan Komandemen Wilayah (KW) 9 NII (NII memiliki 10 KW, sedangkan KW 9 beroperasi di Jabodetabek). Forum ini didirikan oleh sejumlah mantan anggota NII.

Sukanto menegaskan, setiap anggota NII diwajibkan merekrut sejumlah orang setiap bulannya. Belum lagi target uang yang harus disetor setiap anggota kepada masing-masing kepala desa. Berapa jumlahnya, bervariasi.

“Karena ketatnya target orang dan uang yang harus disetor, maka para anggota itu harus bolos kerja dan kuliahnya. Jadi ya kehidupan dia jadi berantakan dan mereka seakan tidak menyadari itu,” kata pria yang pernah menjabat sebagai salah satu camat di NII ini. Sekadar diketahui, NII memiliki struktur seperti negara yang memiliki jabatan ketua RT, lurah, camat, hingga presiden.

Sukanto mengatakan, karena tekanan ‘jihad’ palsu ini, banyak anggota yang sebenarnya merasa tidak kuat. Namun mereka seperti tidak memiliki keberanian untuk meninggalkan komunitas atau jaringan tersebut. Bahkan ada yang mengaku ada saudaranya yang anggota TNI agar ia bisa lepas dari teror dan kejaran anggota NII KX IX yang lain.

Seorang mahasiswa sahabat jurnalis voa-islam bahkan sempat meninggalkan kuliahnya karena dipaksa menjadi seorang pengemis di lampu merah demi mengumpulkan uang untuk disetorkan kepada NII kW IX ini, namun Allah menyelamatkannya dan mampu melepaskan diri dari jerat sesat NII KX IX ini. Menurut penturuan beliau, uang yang terkumpul dicurigai mengarah kepada pesantren Az Zaitun di Indramayu yang memang terkenal kontroversial dan dekat dengan mantan Kepala BIN, AM Hendropriyono.

“Mereka itu setiap hari harus lapor kepada atasannya, kalau sampai sehari saja tidak, mereka akan dicari. Ke mana pun, sampai ketemu,” katanya.

MUI sendiri telah merilis sikapnya terkait NII, selengkapnya baca disini. Penyimpangan terjadi ketika masa pimpinan Abu Toto alias alias Abu Toto Syekh Panjigumilang (yang juga Syekh Ma’had Al-Zaitun, Desa Gantar, Indramayu, Jawa Barat). Gerakan ini mencari mangsa dengan jalan setiap jamaah diwajibkan mencari satu orang tiap harinya untuk dibawa tilawah. Lalu diarahkan agar hijrah dan berbaiat sebagai anggota NII. Karena dengan baiat maka seseorang terhapus dari dosa masa lalu, tersucikan diri, dan menjadi ahli surga. Untuk itu peserta ini harus mengeluarkan shadaqah hijrah yang besarnya tergantung dosa yang dilakukan. Anggota NII di Jakarta saja, saat ini diperkirakan 120.000 orang yang aktif.


Foto Abu TOTO

Ia mengubah beberapa ketetapan-ketetapan Komandemen yang termuat dalam kitab PDB (Pedoman Dharma Bakti) seperti menggantikan makna fai’ dan ghanimah yang tadinya bermakna harta rampasan dari musuh ketika terjadi peperangan (fisik), tetapi oleh Abu Toto diartikan sama saja, baik perang fisik maupun tidak. Artinya, harta orang selain NII boleh dirampas dan dianggap halal. Pemahaman ini tidak dicetuskan dalam bentuk ketetapan syura (musyawarah KW IX) dan juga tidak secara tertulis, namun didoktrinkan kepada jamaahnya. Sehingga jamaahnya banyak yang mencuri, merampok, dan menipu, namun menganggapnya sebagai ibadah, karena sudah diinstruksikan oleh ‘negara’.

Kesesatan NII KW IX juga terjadi dalam hal shalat, dalam Kitab Undang-undang Dasar NII diwajibkan shalat fardhu 5 waktu, namun perkembangannya, dengan pemahaman teori kondisi perang, maka shalat bisa dirapel.Artinya, dari mulai shalat zuhur sampai dengan shalat subuh dilakukan dalam satu waktu, masing-masing hanya satu rakaat. Ini doktrin Abu Toto dari tahun 2000-an.
Mengenai puasa, mereka mengamalkan hadits tentang mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka dengan cara, sudah terbit matahari pun masih boleh sahur, sedang jam 5 sore sudah boleh berbuka. Alasannya dalil hadits tersebut.

Kesesatan NII KW IX juga terjadi dalam hal shalat, dalam Kitab Undang-undang Dasar NII diwajibkan shalat fardhu 5 waktu, maka shalat bisa dirapel. Aneh

Bagi ada saudara atau kerabat anda yang masih terjerat mangsa dan teror NII KW IX ini segera laporkan kepada MUI, Depag atau aparat Kepolisian agar segera mendapat pertolongan dari jerat “Jihad Palsu” ala NII KW IX. Waspadalah.

http://voa-islam.com/news/indonesiana/2011/04/14/14149/waspadanii-kw-ix-masih-mencari-mangsa-untuk-diperas/

3 Tanggapan

  1. Aliran Agama NII-KWIX = Jaringan Islam Liberal = Ahmadiyah = Islam Pluraism ( Nurkholis M ) = Ingkarus Sunnah = Islam Jama’ah = Ciptaan Yahudi & Nasrani ( Ciptaan USA dan Aparat Negara ), yang bertujuan mengkerdilkan aqidah Umat Islam dan membuat Umat Benci kepada perjuangan Islam yang sebenarnya, membuat Kemiskinan berjamaah, membuat anak-anak bangsa Bodoh dan Miskin, memperkaya diri Syeikh, anak-anaknya, keluarganya dan kroni-kroninya yang pada akhirnya Syeik Panji Gumilang, akan berusaha dan mencoba untuk jadi Tuhan Kecil ( Thogut ), yang harus ditaati, didengar, dihormati,diikuti kemudian akan mencoba dirinya untuk disembah oleh para mengikutnya yang notabene pengetahuan agamanya masih cetek alias dangkal yang ada hanya taqlid buta ( alias membuta babi ). Ingat !!! Vander Plash – SNOUCK HUGRONYE Jilid II sedang berlangsung sekarang ini, nauzubilah min zhaliq.

  2. saya mohon pada semuanya kaum muslimin walmuslimat klo berpendapat itu jangan pake hawa nafsu tetapi pake dasar yg kuat yaitu alquran dan hadist
    klo bicara aqidah,ciri2hadis sohih yg berbicara ttng aqidah itu ya pasti nyambung dg alquran.
    jngn nuduhorang tanpa ada bukti dan kajian ilmiyah(alquran) yg kuat
    sbb anda akan menyesal dunia akhirat

  3. […] Mengapa Ustad ABB dipaksakan dengan pasal karet membiayai terorisme diaceh sedangkan Demokrat yang menyumbang ke NII tidak ditindak juga? Benarkah NII ini dibuat dan dipelihara oleh pemerintah? […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: