Ayat-ayat Cinta, Ikhtilat di Bioskop, dan Hiburan dalam Islam


From : khilafah@yahoogroups.com

Semalam, gara-gara membaca tulisan Asma Nadia tentang film Ayat-ayat Cinta [AAC], iseng-iseng nyari di youtube.com. Eh, ternyata sudah ada yang ng-upload. Kelihatannya sih, versi rough cut-nya. Karena suara Fahri saat talaqqi masih suara cewek.

Meski Nonton cuma berdua sama misua, tetep aja jengah waktu ditayangkan adegan malam pertama Fahri-Aishah shg muncul juga
celetukan-celetukan , “Hiii… malu… khan gimana-gimana juga Fedi Nuril sama Rianti bukan mahramnya… “
Melihat animo temen-temen di Indonesia yang menyambut meriah film ini, jadi memunculkan pertanyaan:

1. Apa ya hukum ikhtilat di dalam gedung bioskop? Atau barangkali
gedung bioskop yang menayangkan AAC di Indonesia memisahkan tempat duduk penonton laki-laki dan perempuan, gitu?

2. Dalam kehidupan bermasyarakat yang dinaungi sistem pemerintahan Islam, bagaimana nasib industri film seperti AAC? Mungkin nonton film-nya nggak masalah, tapi bagaimana dengan proses pembuatannya? Seperti adegan2 Fedi Nuril-Rianti Cartwright yang cukup mesra (buat saya seh…) apakah lantas hukumnya jadi mubah ‘in the name of dakwah’ padahal keduanya bukan mahram?

3. Sekedar bertanya-tanya, kalaulah AAC hanya dianggap sebagai
hiburan, ada yang tau nggak bagaimana hiburan masyarakat muslim dalam naungan daulah khilafah sejak era Rasulullah hingga Khilafah Utsmani?
Sepanjang yang saya tahu kok kehidupan mereka sangat sibuk dengan dakwah, jihad, belajar, riset dan pengembangan iptek. Riset yang dikembangkan pun juga riset yang berorientasi pada dakwah dan jihad, bukan sekedar demi kepuasan intelektual semata.

Jadi, seberapa dominan urusan hiburan ini dalam kehidupan masyarakat dalam naungan khilafah? Ataukah justru berada di tengah kerasnya medan jihad, sulitnya dakwah, riset, dan belajar itulah yang menjadi penghibur bagi mereka sebagaimana ayat “Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram (Ar Ra’d 28)”?

http://corpusalienu m.multiply. com/

About these ads

Satu Tanggapan

  1. menurut saya, film yg bertujuan untuk dakwah tetep aja tidak bisa me-’mubahkan’ hubungan2 mesra antara non-mahram…coz, tanpa hubungan2 mesra itu-pun sebuah film tetap bisa menghibur dan makin tercapai pesan dakwahnya. Contohnya saja film ‘Ashabul Kahfi’..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 77 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: